Contoh Studi Cross Sectional dalam Penelitian

Diposting pada

Contoh Studi Cross Sectional

Cross sectional, case control, dan cohort pada hakekatnya merupakan bagian dari studi observasional. Hal ini lantaran kerpakali kajian dalam ketia bagian ini menjadi satu-satunya metode penelitian praktis yang bermanfaat untuk mempelajari berbagai rumusan masalah dalam topik penelitian tertentu.

Akan tetapi yang pasti, dalam studi penelitian cross sectional digunakan untuk menentukan prevalensi. Hal ini disebabkan berbagai contoh cross sectional relatif cepat dan mudah, meski tidak menunjukkan perbedaan antara sebab dan akibat. Lantaran studi ini senantisa membandingkan kasus terkontrol dalam kelompok secara retrospektif.

Cross Sectional 

Cross sectional adalah sebagai jenis desain penelitian yang terutama digunakan untuk menentukan prevalensi, dimana prevalensi sama dengan jumlah kasus dalam suatu populasi pada titik waktu tertentu. Dimana semua pengukuran pada setiap orang dilakukan pada satu titik waktu. Oleh karena itulah studi cross sectional juga digunakan untuk menyimpulkan penyebab.

Contoh Cross Sectional

Adapun untuk contoh studi penelitian yang termasuk bagian daripada cross sectional. Misalnya saja;

  1. Perusahaan

Dalam hal ini misalkan saja sebuah perusahaan telepon mengandalkan fitur-fitur canggih dan inovatif untuk mendorong penjualan. Riset pasar yang dipergunakan oleh produsen ponsel di seluruh pasar demografis target memvalidasi tingkat adopsi yang diharapkan dan potensi penjualan ponsel. Dalam studi cross sectional, peneliti mendaftarkan pria dan wanita di seluruh wilayah, dan rentang usia untuk penelitian.

Jika hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita Asia tidak akan membeli ponsel karena ukurannya yang besar, perusahaan ponsel dapat mengubah desainnya agar tidak terlalu besar. Mereka juga dapat mengembangkan dan memasarkan ponsel yang lebih kecil untuk menarik kelompok wanita yang lebih inklusif.

  1. Kesehatan

Contoh lain dari adanya studi penelitian tentang cross sectional adalah studi medis yang meneliti prevalensi kanker di antara populasi tertentu. Peneliti dapat mengevaluasi orang dari berbagai usia, etnis, lokasi geografis, dan latar belakang sosial.

Jika sejumlah besar pria dari kelompok usia tertentu lebih rentan terkena penyakit ini, peneliti dapat melakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami alasannya. Akan tetapi penggunaan pada studi longitudinal paling baik digunakan dalam kasus ini, untuk mempelajari partisipan penelitian yang sama dari waktu ke waktu.

  1. Pendidikan

Misalnya, saja untuk contoh topik pendidikan, adanya keinginan seorang peneliti ingin mengetahui berapa banyak keluarga berpenghasilan rendah di Kota New York yang saat ini memiliki anak, sehingga peneliti dapat memperkirakan berapa banyak uang yang diperlukan untuk mendanai program makan siang gratis di sekolah umum.

Karena yang perlu diketahui peneliti hanyalah jumlah keluarga berpenghasilan rendah saat ini, studi cross-sectional dapat memberi peneliti semua data yang ia butuhkan.

  1. Kasus Patah Tulang

Contoh lain dari studi cross sectional misalnya studi prevalensi patah tulang tengkorak pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit di Edinburgh dari tahun 1983 hingga 1989. Maka, dalam hal ini per memperhatikan bahwa meskipun periode penelitian adalah tujuh tahun, ini bukan studi longitudinal atau kohort karena informasi tentang setiap subjek dicatat di satu titik waktu.

Jenis Studi Cross Sectional

Adapun untuk bentuk penerapan studi cross sectional, terdapat dalam bidang penelitian sebagai berikut;

  1. Retail

Dalam bidang retail penerapan dalam arti penelitian untuk studi cross sectional bisa dilakukan pada pria dan wanita dalam rentang usia tertentu, misalnya untuk mengungkap persamaan dan perbedaan tren pengeluaran terkait gender.

  1. Bisnis

Dalam bidang bisnis, peneliti bisa menggunakan studi cross sectional untuk memahami bagaimana orang-orang yang berasal dari status sosial-ekonomi berbeda dari satu segmen geografis menanggapi satu perubahan dalam suatu penawaran.

  1. Perawatan Kesehatan

Dalam bidang perawatan kesehatan, para ilmuwan bisa menggunakan penelitian cross sectional, misalnya untuk memahami bagaimana anak-anak usia 2 sampai dengan 12 tahun di seluruh negara A rentan terhadap kekurangan kalsium.

  1. Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, studi cross sectional di sekolah dapat membantu dalam memahami bagaimana peserta didik yang mendapatkan nilai dalam kisaran nilai tertentu dalam kursus pendahuluan yang sama bekerja dengan kurikulum baru.

  1. Psikologi

Dalam bidang psikologi, studi cross sectional merupakan penelitian yang melibatkan berbagai kelompok orang yang tidak mempunyai variabel minat yang sama (seperti variabel penelitian yang kita fokuskan), tapi berbagi variabel lain yang relevan. Kajian ini dapat mencakup rentang usia, identitas gender, status sosial ekonomi, dan sebagainya.

Kesimpulan

Dari penjelasan yang telah dikemukakan, tentang berbagai contoh cross sectional pada hakekatnya instrumen penelitian dengan jenis metode penelitian ini kerapkali dilakukan dengan menggunakan kuesioner, tapi sebagai alternatif, setiap subjek juga dapat diwawancarai.

Bahkan seringkalipula studi dalam metode cross sectional adalah pilihan terbaik untuk alasan praktis. Misalnya, jika kita hanya punya waktu atau uang untuk mengumpulkan data cross sectional, atau jika satu-satunya data yang dapat kita temukan untuk menjawab pertanyaan penelitian kita dikumpulkan dalam satu titik waktu.

Hal ini dikarenakan dalam studi cross sectional lebih murah dan lebih sedikit memakan waktu daripada banyak jenis studi lainnya, studi ini memungkinkan kita untuk dengan mudah mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut.

Gambar Gravatar
Saya mencintai dan suka menulis terkait pendidikan dan penelitian. Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat untuk kalian yang membutuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *