Contoh Hasil dan Pembahasan Laporan Praktikum

Diposting pada

Contoh Hasil dan Pembahasan Praktikum

Hasil dan pembahasan dalam penulisan dan pembuatan laporan praktikum menjadi salah satu bahasan penting. Alasannya karena penyajian dalam hasil penelitian praktikum perlu diawali dengan memaparkan keadaan pelaksanaan percobaan, apakah teks laporan percobaan berlangsung sebagaimana yang direncanakan atau menghadapi kendala tertentu. Disini, bilamana menghadapi kendala tertentu, jelaskan kendala yang dihadapi dan apakah kendala tersebut dapat diatasi.

Sehingga untuk serangkaian proses penyajian hasil dan pembahasannya kemudian dapat memberikan kebermanfaatan bagi setiap pembaca yang membutuhkannya.

Hasil dan Pembahasan Praktikum

Bagian penulisan hasil dan pembahasan dalam laporan praktikum berada di BAB 3, yang secara bersama-sama mampu untuk dianalisis berdasakan landasan teori yang telah ditentukan.

Akan tetapi yang pasti, pembuatan hasil penelitian yang baik dan benar haruslah mampu membuktikan hipotesis maupun yang tidak, realitas ini mempunyai implikasi (dampak/konsekuensi) bagi objek penelitian. Dengan demikian si peneliti harus mendiskusikan hasil penelitian ini dalam konteks implikasi tersebut.

Contoh Hasil dan Pembahasan Laporan Praktikum

Adapun untuk prosedur dalam kepenulisan contoh hasil laporan praktikum dan pembahasannya bisa dibuat seberti ini.

  1. Biologi

Sebagai konteks Ilmu Pengetahuan Alam untuk pembuatan hasil dan pembahasan. Misalnya saja;

Contoh Hasil dan Pembahasan Praktikum Biologi

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan yang diperoleh pada praktikum ini sebagai berikut :

Tabel 1 Diameter Koloni Colletotrichum capsici Tanpa Perlakuan (Kontrol)

Contoh Hasil dan Pembahasan Praktikum Biologi

Tabel 2 Diameter Koloni Colletotrichum capsici Perlakuan Suspensi Chromolaena odorata

Contoh Hasil dan Pembahasan Laporan Praktikum Biologi

Pembahasan 

Berdasar data pada arti tabel 1 diameter Colletotrichum capsici tanpa pemberian suspensi gulma siam (C. odorata) pada media, rerata diameter adalah 4,3 cm pada hari pengamatan pertama, 6,4 cm hari pengamatan kedua, dan kontaminasi pada hari pengamatan terakhir.

Sedangkan data tabel 2 diameter Colletotrichum capsici  dengan pemberian suspensi gulma siam (C. odorata) pada media menunjukkan rerata panjang diameter yaitu 0,75 cm hari pengamatan pertama, 1,6 cm hari pengamatan kedua, dan 1,95 cm hari pengamatan terakhir.

Kemampuan penghambatan gulma siam (C. odorata) terhadap patogen penyebab penyakit tanaman (Colletotrichum capsici) dapat dilihat pada besarnya nilai diameter patogen tersebut. Rerata diameter Colletotrichum capsici yang diberi suspensi gulma siam (C. odorata) lebih kecil dari pada diameter Colletotrichum capsici tanpa diberi suspensi gulma siam, yaitu 1,6 cm dan 6,4 cm (diameter Colletotrichum capsici pada hari pengamatan kedua). Selisih diameternya yaitu 4,8 cm. Hal ini membuktikan bahwa gulma siam memiliki kemampuan menghambat perkembangan patogen tanaman, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati.

Adanya efek biocidal dari ekstrak C. odorata diduga karena peran dari satu atau beberapa senyawa-senyawa yang terkandung dalam C. odorata. Dari isolasi gulma ini berhasil ditemukan sejumlah alkohol, flavononas, flavonas, khalkones, asam aromatik dan minyak esensial. Minyak esensial dari daun gulma ini diduga dapat menimbulkan efek pestisidal dan nematisidal. Ditemukan juga sejenis alkaloid yang disebut Pyrolizidine Alkaloids (PAs). PAs ini berfungsi sebagai penghambat makan dan insektisidal. C. odorata dilaporkan mengandung senyawa kimia yang bersifat antibakteri terhadap patogen tumbuhan (Haryati, 2004).

Penelitian berjudul “Eksplorasi Potensi Gulma Siam (Chromolaena odorata) sebagai Biofungisida Pengendali Phytophthora Palmivora yang Diisolasi dari Buah Kakao” menunjukkan Ekstrak dua bagian/jaringan tanaman gulma siam yaitu akar dan pucuk menunjukkan kemampuan yang berbeda dalam menghambat pertumbuhan P. palmivora. Hasil uji statistik memperlihatkan bahwa ekstrak bagian pucuk tanaman mempunyai kemampuan penghambatan terhadap P. palmivora yang lebih baik daripada bagian akar.

Hal ini diduga karena senyawa-senyawa toksik, seperti alkohol, flavonones, khalkones, asam aromatik dan minyak essensial yang dikandung oleh gulma siam. Dari semua tingkat konsentrasi ekstrak gulma siam yang diuji, tingkat konsentrasi 40% menunjukkan penghambatan yang terbaik, meskipun tidak berbeda nyata dengan konsentrasi 30% (Suharjo, 2011).

Cawan petri kontrol yang berisi biakan murni Colletotrichum capsici tanpa pemberian C. odorata menunjukkan kontaminasi. Kontaminasi terlihat pada hari terakhir pengamatan. Faktor kontaminasi tersebut antara lain:

  1. Alat yang dipakai kurang steril
  2. Melakukan proses peletakkan biakan murni patogen yang keluar dari area LAF
  3. Berbicara ketika praktikum berlangsung. Berbicara mampu menyalurkan mikroba, karena mulut mengandung mikroba yang dapat tersebar melalui udara saat kita berbicara
  4. Perekatan plastik wrap yang kurang rapat pada bibir cawan petri, sehingga udara dapat masuk ke dalam cawan petri
  1. Kimia

Mata pelajaran kimia kadangkala diperlukan berbagai jenis praktikum untuk menganalisis salah satu bahan kimia yang dipergunakan oleh manusia. Adapun untuk contoh kepenulisannya sebagai berikut;

Contoh Hasil dan Pembahasan Laporan Praktikum Biologi

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan yang diperoleh pada praktikum ini sebagai berikut:

Contoh Hasil dan Pembahasan Laporan Praktikum Kimia

Pembahasan

Data pengamatan diatas menunjukkan diameter koloni jamur Colletotrichum capsici pada kontrol (tanpa perlakuan), fungisida Delsene MX-80WP konsentrasi 1000 ppm dan 500 ppm. Hari terakhir pengamatan menunjukkan bahwa bagian kontrol, diameter koloni jamur Colletotrichum capsici yaitu 4.35 cm, konsentrasi 1000 ppm diameter jamur sebesar 0.2 cm dan konsentrasi 500 ppm diameter koloni jamur Colletotrichum capsici sebesar 0.9 cm.

Hal tersebut sangat jelas terlihat bahwa pada perlakuan pemberian fungisida Delsene MX-80WP konsentrasi 1000 ppm memiliki diameter koloni jamur yang sangat kecil jika dibandingkan dengan dua perlakuan yang lain. Artinya, fungisida Delsene MX-80WP mampu menghambat perkembangan patogen tanaman (Colletotrichum capsici). Adapun konsentrasi maksimum yang mampu menghambat yaitu 1000 ppm. Karena pada konsentrasi 500 ppm, diameter koloni jamur masih cukup besar yaitu 0.9 cm. Sedangkan pada konsentrasi 1000 ppm, diameter koloni jamur hanya sebesar 0.2 cm.

Penelitian “Pengendalian Hama dan Penyakit Penting Cabai dengan Pestisida Biorasional” melakukan pengendalian Colletotrichum capsici menggunakan insektisida sintetik pirethroid 2.5 EC 0,2% dan fungisida sintetik propineb 70 WP 0,2% diaplikasikan dengan interval 7 hari. Pada tanaman cabai berumur 80 hari, persentase kerusakan tanaman sudah tinggi bervariasi antara 36-56%. Penyemprotan dilakukan selama 7 hari saat tanaman belum berumur 80 hari agar penghambatan perkembangan patogen dapat terhambat (Suryaningsih, 2007).

Delsene MX-80MP merupakan fungisida kontak dan sistemik. Bekerja dengan cara mematikan dan mencegah stadia pertumbuhan patogen sistemik, mencegah penyebaran patogen secara epidemis dalam jaringan tanaman. Dalam jaringan daun akan bergerak secara translaminar.

Bahan aktif berupa mankozeb 73,8 %, dan karbendazim 6,2 %. Karbendazim 6.2% sistemik dengan cara kerja sebagai fungisida protektif dan kuratif diserap melalui akar dan jaringan hijau lain dan ditranslokasikan secara acropetal, bekerja dengan cara menghambat perkembangan germ tubes, pembentukan appresoria dan pertumbuhan miselium patogen.

Mankozeb 73.8% fungisida Kontak berspektrum luas, bekerja secara protektif menghambat metabolisme lemak, respirasi dan produksi ATP-carbendazim digunakan secara foliar untuk mengendalikan penyakit yang diakibatkan oleh jamur. Delsene MX-80WP mampu mengendalikan patogen pada tanaman:

  1. Bawang merah: Mengendalikan penyakit bercak daun Alternaria porri
  2. Cabai: Mengendalikan penyakit antraknosa Colletotrichum capsici, penyakit bercak daun Cercospora
  3. Cengkeh: Mengendalikan penyakit cacar daun Phyllosticta
  4. Jagung: mengendalikan penyakit hawar daun Helminthosporium turcicum
  5. Kacang tanah: Mengendalikan penyakit bercak daun Cercospora
  6. Karet (pembibitan): Mengendalikan penyakit gugur daun Colletotrichum gloesporioides
  7. Kentang: Mengendalikan penyakit busuk daun Phytophthora infestans
  8. Padi: Meningkatkan persen gabah isi dan bobot gabah kering giling
  9. Padi sawah: Mengendalikan penyakit bercak daun Cercospora; penyakit blas Pyricularia oryzae, penyakit hawar pelepah Rhizoctonia oryzae
  10. Tembakau (persemaian): Penyakit rebah batang Phytophthora, Pythium sp. dan Rhizoctonia sp.
  11. Tomat: Penyakit busuk daun Phytophthora infestans (Miller, 2004).

Dari penjelasan yang dikemukakan, perlu diketahui bahwa peneliti dalam membuat laporan praktikum harus menginterpretasikan hasil penelitian dalam konteks implikasi atau konsekuensi praktikal bagi obyek penelitian. Alasan yang mendukung mengapa aspek implikasi ini perlu dikemukakan adalah bahwa penelitian dilakukan berdasarkan suatu basis data historis (yang sudah terjadi).

Dengan demikian, jika peneliti tidak mendiskusikan implikasi dari hasil penelitiannya maka ia hanya berhenti pada konteks cerita historis (yang sudah terjadi). Pembahasan mengenai implikasi hasil penelitian akan membawa konteks penelitian ke arah masa depan, bukan pada masa lalu (historis).

Itulah tadi ragam contoh penulisan hasil dan pembahasan dalam penyusunan laporan praktikum biologi dan kimia yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat.

Gambar Gravatar
Saya mencintai dan suka menulis terkait pendidikan dan penelitian. Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat untuk kalian yang membutuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *