Contoh Deskripsi Hasil Penelitian

Diposting pada
Rate this post

Contoh Deskripsi Hasil Penelitian

Deskripsi hasil penelitian sangatlah penting untuk dibuat. Pasalnya dalam berbagai metode penelitian baik yang mempergunakan penelitian kualitatif ataupun penelitian kuantitatif penulisan untuk deskripsi ini dilakukan, guna memperjelas antara temuan dan teknik analisis data yang telah dikumpulan.

Tetapi yang pasti, pembahasan hasil penelitian perlu juga dilakukan dengan cara merujuk pada kajian empiris yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Jika hasil penelitian dianggap konsisten dengan landasan teori yang ada maka pembahasan dapat diarahkan untuk memberikan rujukan penelitian terdahulu yang sesuai dengan hasil penelitian.

Deskripsi Hasil Penelitian

Deskripsi hasil penelitian adalah rangkaian teknik penulisan yang dibuat guna menyusun serta menampilkan ringkasan yang ada sehingga nantinya mampu memudahkan pembaca dalam memahami sekaligus mengerti substansi dan makna dari laporan penelitian yang dibuat.

Oleh karena itulah peneliti dapat mengemukakan dan menulis hasil kajian empiris yang telah terkompilasi pada Bab 2 (tentang kajian pustaka) yang pada umumnya peneliti berusaha menekankan bahwa hasil penelitiannya telah sesuai dengan hasil-hasil penelitian terdahulu.

Contoh Deskripsi Hasil Penelitian

Adapun untuk contoh penulisan tentang deskripsi hasil penelitian yang dibuat dalam format karya tulis ilmiah misalnya saja topik penelitian tentang Pemanfaatan Teknologi Berbasis Internet Of Things Terhadap Peningkatan Kualitas Pelayanan Transportasi Publik untuk Penyandang Tunanetra.

Maka pembuatan deskripsi hasil penelitian sebagai berikut;

Penulisan Deskripsi Hasil Penelitian

DESKRIPSI HASIL PENELITIAN

Data dari hasil penelitian ini didapatkan melalui wawancara mendalam yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 26 Juli 2019 di daerah Ragunan, Pondok Labu, dan Cinere. Dimana informan yang diwawancarai oleh peneliti memiliki pengalaman yang berkaitan dengan tunanetra. Berikut adalah deskripsi hasil penelitian yang diperoleh dari setiap informan penelitian:

  1. Bapak Wariso

Bapak Wariso selaku supir angkot S12 trayek Ragunan-Lebak Bulus memaparkan kepada peneliti selama proses wawancara bahwa beliau seringkali mengangkut sepasang suami isteri penyandang tunanetra. Bapak Wariso juga menjelaskan bahwa sepasang suami isteri penyandang tunanetra tersebut merupakan tukang pijat tunanetra yang biasa bekerja di daerah Blok M. Jakarta Selatan. Bapak Wariso mengatakan bahwa dia seringkali mengangkut sepasang suami isteri tunanetra tersebut dari tempat tinggalnya di daerah Cempedak ke terminal Ragunan ataupun sebaliknya. Menurut Bapak Wariso sepasang suami isteri tunanetra tersebut tidak mengalami kesulitan dalam menggunakan transportasi angkutan umum karena sepasang suami isteri tersebut sudah terbiasa dengan rute yang dilaluinya dan para supir angkot juga sudah paham ketika mengangkut sepasang suami isteri tunanetra tersebut.

  1. Bapak Leo

Bapak Leo selaku supir angkot S12 trayek Ragunan-Lebak Bulus memaparkan kepada peneliti bahwa beliau seringkali mengangkut anak SMA penyandang tunanetra yang berangkat dan pulang sekolah di daerah Cilandak Jakarta Selatan. Menurut Bapak Leo penyandang tunanetra yang biasa beliau angkut tidak mengalami kesulitan karena Bapak Leo sudah mengerti bagaimana membantu penyandang tunanetra ketika naik di angkotnya seperti menanyakan tujuan akhir dari penyandang tunanetra tersebut.

  1. Bapak Herman

Bapak Herman selaku Staf Kesekretariatan di Yayasan Mitra Netra Jakarta Selatan memaparkan kepada peneliti bahwa biasanya penyandang tunatera akan belajar orientasi mobilitas (OM), namun sebelum tunanetra mempelajari OM, mereka akan didampingi oleh pendamping yang akan mengajari mereka bagaimana cara melihat lingkungan dan kondisi yang berbeda-beda, namun masih dalam lingkup Mitra Netra. Kemudian tunanetra akan mempelajari bagaimana cara berjalan dan memegang tongkat yang benar saat berjalan sendiri di luar sendiri, kemudian akan mempelajari bagaimana cara melindungi diri dari orang tindakan yang tidak baik dari lingkungan sekitar ketika menggunakan transportasi umum.

  1. Bapak Warmin

Bapak Warmin selaku tukang pijat tunanetra yang kesehariannya memijat di rumahnya dan juga menerima pijat panggilan ke rumah-rumah pelanggannya memaparkan kepada peneliti bahwa beliau terkadang mengalami kesulitan dalam memberhentikan dan mengetahui angkutan umum yang hendak dia tumpangi dikarenakan tidak semua supir angkutan umum memahami keadaannya yang tunanetra dan bahkan ada oknum supir angkutan umum yang tidak mau berhenti karena menganggap penumpang tunanetra tidak akan membayar biaya perjalanan. Selain itu, menurut pak warmin dirinya juga sering merasa kesulitan ketika harus melakukan perjalanan yang baru pertama kali dia lewati dan juga merasa kesulitan untuk mengidentifikasi selokan di pinggir jalan sehingga dia pernah terjatuh ke selokan. Menurut Pak Warmin cara paling sering dia gunakan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut adalah dengan meminta bantuan kepada orang lain yang peduli terhadap penyandang tunanetra. Bapak Warmin ini juga menjelaskan bahwa ilmu orientasi mobilitas (OM) yang pernah dia pelajari di daerah asalanya yaitu di Solo juga sangat membantu beliau ketika berpergian.

  1. Bapak Jariyat

Bapak Jariyat selaku penjual kerupuk keliling tunanetra menjelaskan kepada peneliti bahwa kemudahan dirinya untuk naik kendaraan umum seperti angkot bergantung pada supir angkot itu sendiri, biasanya supir angkot yang paham dan menyadari kondisi dirinya yang tunanetra maka supir tersebut akan berhenti dan menawarkan dan menanyakan tujuan kepada Bapak Jariyat. Namun tidak semua supir angkot seperti itu, dirinya seringkali kesal dengan supir angkot yang tidak mau berhenti karena dirinya merasa tidak dihargai. Biasanya Bapak Jariyat ketika kesulitan dalam memberhentikan angkot dia akan meminta tolong kepada orang lain atau memberhentikan pengendara sepeda motor yang lewat untuk dimintai tolong memberhentikan angkot yang hendak ditumpangi oleh dirinya.

PEMBAHASAN

Pada tahap awal telah dilakukan wawancara untuk melihat kehidupan dari tunanetra dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mengungkap fakta, keadaan, fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi saat mereka melakukan aktivitas diluar rumah untuk bepergian jauh dengan menggunakan transportasi publik umum darat sendirian maupun bersama teman dan keluarga.

Melihat kendala yang dihadapi oleh penyandang tunanetra dalam menggunakan transportasi publik umum peneliti ingin merancang sebuah alat bantu untuk mengidentifikasi angkutan kota dan navigasi tunanetra dalam memudahkan tunanetra untuk mobilisasi sehari-hari. Dalam menyelesaikan kendala tersebut dibutuhkan dua sistem yaitu identifikasi angkutan kota dan juga navigasi tunanetra.

Nah, itulah saja artikel yang bisa dibagikan pada semua pembaca berkenaan dengan contoh penulisan dalam deskripsi hasil penelitian dan pembahasannya. Semoga memberikan uraian keterangan yang bisa memahamkan.

Gambar Gravatar
Saya mencintai dan suka menulis terkait pendidikan dan penelitian. Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat untuk kalian yang membutuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *