Contoh Bab 4 dan Bab 5 Penelitian Kualitatif

Diposting pada

Penelitian Kualitatif Bab 4 dan Penelitian Kualitatif Bab 5

Penelitian kualitatif menjadi salah satu metode penelitian yang berfungsi untuk mengeksplorasi, memahami, dan menafsirkan berbagai fenomena sosial secara mendalam dalam lingkungan sosialnya. Proses penyusunan qualitative research ini bisa dilakukan dengan studi kasus, penelitian deskriptif, dan lainnya.

Tetapi yang pasti. Dalam berbagai jenis karya tulis ilmiah termasuk skripsi, tesis, desertasi, dan tugas akhir sistematika penulisanya dibadi menjadi per Bab. Dimana untuk Bab 1 sendiri berisi pendahuluan, Bab 2 Landasan Teori, Bab 3 terkait metodologi penelitian, Bab 4 hasil dan pembahasan, sedangkan untuk Bab 5 ialah berisi kesimpulan dan saran.

Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif adalah metodologi penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan serangkaian informasi dengan terlebih dahulu mendapatkan gambaran yang lebih rinci tentang rumusan masalah melalui sejumlah jenis data penelitian, kasus atau peristiwa yang berkaitan dengan masalah sosial.

Dimana, untuk bentuk penelitian berdasarkan tujuan dan metode yang digunakan penelitian bisa dibedakan menjadi dua yaitu penelitian kualitatif dan kuantitatif. Meskipun, diakui bahwa terdapat beragam aspek perbedaan diantara keduanya, salah satunya yaitu ditinjau dari hubungan dengan lingkungan studi. Untuk penelitian kualitatif subjek penelitian bersifat aktif dengan pendekatan naturalistik. Sedangkan pada penelitian kuantitatif subjek bersifat pasif, dengan pendekatan eksperimental.

Di luar daripada itu, dalam sistematika kepenulisannya skripsi, tesis, maupun desertasi sejatinya terdapat pembagian yang lengkap. Tahapan awal seseorang harus membuat proposal penelitian kualitatif dari Bab 1 sampai Bab 3 demi menjadi sidang proposal. Sedangkan selanjutnya setelah melangsungkan sidang si peneliti haruslah membuat Bab 4 dan Bab 5-nya secara tuntas agar hasil penelitian menjadi lengkap.

Contoh Penelitian Kualitatif Bab 4 Hingga 5

Penggambaran yang lebih mendalam. Berikut ini metupakan isi sekaligus proses kepenulisan untuk menyelesaikan penelitian dengan dibagi menjadi per babnya.

  1. Bab 4 Penelitian Kualitatif

Bab IV berisi tentang Hasil Penelitian dan Pembahasan yang dibuat dengan memasukan seluruh transkrip wawancara sekaligus memasukan sejumlah data yang didapatkan selama penelitian. Sehingga untuk pembuatannya sendiri bisa disusun secara terpisah ataupun secara langsung.

Contoh Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Identitas Informan

Dari penelitian yang peneliti lakukan dengan studi kasus mempergunakan wawancara kepada sejumlah  mahasiswa dengan kriteria yang memiliki kecenderungan untuk melakukan  pelanggaran pada APILL “Bangjo Ngoresan”, diperoleh hasil dengan jumlah informan 4 (lima) orang yang  telah mewakili untuk memberikan informasi data populasi lainnya, dan hasilnya  adalah sebagai berikut;

Faktor Penyebab Maraknya  Pelanggaran pada APILL “Bangjo Ngoresan”

Informan 1

Informan pertama adalah seorang Laki-laki sebut saja FN. Saat ini dia berusia 21  tahun. Pemuda ini terdaftar sebagai mahasiswa manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret yang berasal dari Pati, Jawa Timur.

FN sendiri bertempat tinggal di Kost Green Laundry Kp. Ngoresan No.6 RT.04 RW 22 Kelurahan Jebres yang setiap harinya dari semester 1 sampai dengan saat ini semester 7 ia sudah terbiasa melewati APILL “Bangjo Ngoresan”.

Menurut FN ada beberapa faktor yang menyebabkan kenapa masyarakat seringkali terlihat melanggar APILL “Bangjo Ngoresan”.  Salah satunya penyebabnya ialah letak APILL sendiri yang dinilai kurang perencanaan yang matang sehingga terdapat regulasi yang membingungkan.

yang biasanya menjadi alasan ngelanggar ya itu, karena letaknya kurang cocok berada disatu titik. Terlalu dekatlah dengan wilayah kampus, makanya masyarakat menaganggap adanya APILL nggak berfungsi

FT juga berujar bahwa bahwa selain pada letak yang kurang perencanaan alasan lainnya ialah masyarakat serta mahasiswa sudah dari jaman dalu sebelum ia berstatus Mahasiswa sudah biasa melakukannya.

tapi paling utama banyak pelanggaran karena emang sudah biasanya aja mahasiswa disana ngelangar, ya emang sih diakui ataupun tidak peanggaran disana sudah biasanya kok dari dulu

Dari wawancara tersebut dapat di simpulkan bahwa Faktor penyebab FT melakukan pelanggaran pada APILL “Bangjo Ngoresan”. Ialah melihat kurangnya perencanaan yang setrategis dalam pelatakannya selain itupula karena dorongan kebiasaan pengguna jalan yang melewatinya selalu melanggar setiap harinya.

Informan II

Informan yang keduan adalah seorang perempuan sebut saja NY saat ini dia berusia 20 tahun dan tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan Universitas Sebelas Maret.

NY adalah salah satu mahasiswi yang berasal dari Lamongan, sehingga untuk melanjalankan aktivitas keseharainnya ialah tinggal di kost, dengan alamat Jl. KI Hajar Dewantara, Jebres, Kota Surakarta. Dalam pendapatnya mengengai penyabab masyarakat melakukan pelanggaran karena melihat fungsi APILL tidak dijalankan sebagimana mestinya, sehingga dalam hal ini terjadi kesenjangan antara aturan dan kenyataan yang sudah semestinya berjalan.

Biasane seng marai pelanggaran disini itu loh, karena aturan-aturan tentang lampu merah berhenti, hijau jalan, dan kuning hati-hati tidak difungsikan dengan baik. Karena alasan pengen buru-buru mungkin, biasalah cedak kampus kabeh pengen cepet”.

NY menyatakan bahwa menjadi latar belakang penyimpangan pada APILL Bangjo Ngoresan karena semenjak awal letaknya di daerah yang tidak terlalu ramai sehingga umumnya mahasiswa yang melewati wilayah tersebut menganggap tidaklah terlalu penting.

Dari pernyataan NY diatas dapat di simpulkan bahwa penyebab banyaknya pelanggaran pada APILL Bangjo Ngoresan karena sejak awal masyarakat sudah menaggapnya sebagai APILL yang tidak memiliki peranan penting sehingga dengan latar belakang tersebut pelaggaran marak terjadi.

Informan 3 

Informan ketiga adalah seorang laki-laki sebut saja DP, saat ini dia berumur 21 tahun dan terdaftar sebagai Mahasiswa jurusan ekonomi pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

DP adalah mahasiswa yang berasal dari perbatasan antara Karang Anyar dan Sukoharjo yang memang dari semenjak SMA sampai menjadi mahasiswa UNS ia seringkali melewati APILL Bangjo Ngoresan untuk ke kampus. Dalam pandangannya pelanggaran yang umumnya terjadi karena tidak seharusnya APILL di bangun secara bersamaan ditempat yang relatif sepi, ia secara gamblang memberikan saran agar APILL diwilayah tersebut diagnti dengan bundaran sehingga fungsinya dapat terkontrol.

Kalau menurut aku ini yo mas, pembangunan lampu merah disini tidak terlalu cocok lah dengan nuansa kampus yang kadang ramai pas isuk tok, padahal kan selain isuk dan jam kuliah sepi. Saharusnya sih memang disini lebih cocok dibuat wae Bundara jadi kesannya malah lebih enek fungsinya”.

DP tidak setiap melewati APILL Bangjo Ngoresan, hanya saja semanjak kuliah ia yakini lebih banyak melewati ruas jalan tersebut. Alasannya karena lebih dekat dari fakultas yang ia tempati.

Yah, kalau sering sih nggak tapi dilihat dari ritme waktunya lumayahan lah. Sejak kuliah jug awes biasa lewat disini, jadi ya menurut pendapatku tetep aja pelanggaran di lampu merah iki bukan pelanggaran

Dari penjelasan DP diatas dapatlah disimpulkan bahwa dalam pengelolaan dan tata letak APILL Bangjo Ngoresan tidak mempertimbangkan ritme kendaraan yang mewati serta ramai di jam-jam tertentu saja.

Informan 4

Informan selanjut nya adalah seorang laki-laki sebut saja TS, saat ini dia berusia 26 tahun dan terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana pendidikan ekonomi Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

TS adalah berasal dari NTB (Nusa Tenggara Barat) yang saat ini tinggal di Jl. Ir. Sutami, Pucangsawit, Kelurahan Jebres, semenjak menjadi mahasiswa UNS. Dalam pendapatnya penyebab yang menjadi faktor terjadinya pelanggaran APILL adalah karena lokasi serta tempatnya dinilai tidak penting untuk masyarakat, sehingga fungsinya dengan jelas menjadi hal tabu (membingungkan)”.

kalau lokasi APILL Bangjo Ngoresan ini nggak adalah menurutku, cuman jadi panjangan aja. Satu-satunya yang menjadi kesalahan dari segi pembangunan nggak ada perencanaan aja, jadi masak ia bangunan APILL ada di wilayah ini dengan keadaan jalan yang tidak terlalu ramai”.

Pendapat TS menyebutkan bahwa satu-satunya yang menjadi latar belakang timbulnya penyimpangan dalam fungsi APILL Bangjo Ngoresan karena tidak membahami arus jalan yang dinilai sepi serta tidak sesuai dengan kepentingan yang dibutuhkan.

Apalagi letaknya itu lho mas, deket banget. Antara lampu merah satu dengan lainnya. Kalau saran saya sih mendingan di cabut aja atau dikurangi biar ada ketertiban juga, sisakan aja yang paling dekat dengan gerbang belakang UNS aja

Dari pernyataan TS tersebut dapat di simpulkan bahwa awal mula yang menjadi latar belakang timbulnya pelanggaran pada APILL Bangjo Ngoresan karena pembangunannya tidak direncanakan dengan baik serta lokasi APILL nya sendiri terlalu dekat dengan jumlah intensitas kendaraan yang tidak terlalu banyak. Bisa disebutkan bahwa lingkungan yang menjadi pendorong daripada pelanggaran APILL menjadi salah satu dampak terjadinya pelanggaraan yang kerap terjadi di masyarakat.

Dalam penelitian ini peneliti mengambil informan berjumlah 4 orang dari  mahasiswa Universitas Sebelas Maret yang secara intesitas waktunya seringkali melewati APILL “Bangjo Ngoresan”. Karena 4 orang tersebut adalah para informan yang memiliki informasi yang  peneliti butuhkan dan memiliki kriteria yang telah ditentukan dan ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian

Tabel Identitas Informan

No Nama Informan Jenis Kelamin Usia Jurusan Fakultas
1 FN Laki-Laki 21 Manajemen FEB
2 NY Perempuan 20 Pendidikan Geografi FKIP
3 DP Laki-Laki 21 Ekonomi Pembangunan FEB
4 TS Laki-Laki 26 Pascasarjana Pendidikan Ekonomi FKIP

Sumber: Wawancara

Berdasarkan daftar tabel peneliti mengambil sampel informan sesuai dengan penentuan identitas informan.

Informan pertama adalah FN seorang mahasiswa laki-laki berusia 21 Tahun yang  terdaftar sebagai mahasiswa Manajemen FEB Universitas Sebelas Maret. Faktor  penyebab yang menjadi latar belakang dari penyimpangan pelanggaran pada APILL Bangjo Ngoresan adalah letaknya yang tidak strategis dengan kondisi masyarakat sekitar selain itu ia pula menambahkan bahwa kebiasaan akan pelanggaraan akan dibenarakan dalam situasi apapun untuk tidak mentaati fungsi-fungsi APILL.

Informan kedua adalah NY seorang mahasiswi perempuan berusia 20 tahun tercatat sebagai mahasiswa pendidikan geografi FKIP Universitas Sebelas Maret. Faktor penyebab pelanggaran pada fungsi-fungsi APILL Bangjo Ngoresan adalah tidak difungsikannya secara baik akan keberadaan APILL tesebut sehingga masyarakat mudah terdorong untuk melakukannya.

Informan ketiga adalah DP yang terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan FEB Universitas Sebelas Maret, Alasan utama DP melakukan pelanggaran dalam fungsi-fungsi APILL ini sendiri adalah faktor ketidak cocokan dalam hal pembuatan APILL di wilayah tersebut seharusnya dalam pandangannya ia memberikan untaian tentang pembangunan bundaran karena wilayah Ngoresan hanya ramai di waktu-watu tertentusaja.

Informan ke empat adalah TS yang terdaftar sebagai mahasiswa Pascarsaja Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Sebelas Maret dan saat ini berusia 26  tahun. Faktor penyebab TS melakukan pelanaggaran pada APILL Bangjo Ngoresan adalah letaknya yang nilai kurang memiliki perencanaan atas pembangunan-pembangunan yang umumnya dilakukan pada APILL seperti tidak dilakukan oleh pemerintah dalam melihat situasi yang ada dalam kehidupan masyarakat (pengguna jalan).

Nama Informan Faktor Penyebab
FN Pengaruh kebiasaan masyarakat dalam pelanggaraan APILL serta melihat ketidakcocokan dalam pembangunan APILL Bangjo Ngoresan terhadap kondisi di lapangan.
NY Faktor ketidakfungsiaanya APILL Bangjo Ngoresan sebagai rambu-rabu lalu lintas.
DP Faktor keinginan diri yang dilakukan oleh pengendara karena melihat intensitas pengguna jalan yang terlalu sepi.
TS Pengruh perencanaan pembangunan yang dilakukan pemerintah tanpa adanya perencanaan yang matang.

Sumber: Wawancara

Dari tabel dapat di simpulkan bahwa sebagian besar informan penelitian melakukan pelanggaraan pada APILL Bangjo Ngoresan adalah kebiasaan penguna jalan yang seringkali melewati APILL dengan tidak mengindahkan pada fungsi-fungsi yang seharusnya terjadi.

Latarbelakang terjadinya peristiwa tersebut disebabkan karena sebelum-sebelumnya bentuk proses perencanaan pembangunan tidak dilakukan dengan melihat intensitas pengguna jalan yang melewati wilayah di Jalan Ngoresan.

  1. Bab 5 Penelitian Kualitatif

Adapun untuk bagian Bab V ini setidaknya berisi tentang Kesimpulan Penelitian dan Saran. Sehingga dalam pembuatnnya tentusaja harus melihat secara keseluruh mulai dari tinjauan pustaka, landasan teori, hasil dan pembahasan. Skema penulisannya bisa dilakukan ialah;

Contoh Bab V Kesimpulan dan Saran

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah di paparkan di bab sebelumnya tentang Faktor penyebab pelanggaran di APILL Bangjo Ngoresan, khususnya pada mahasiswa dapat diambil beberapa  kesimpulan;

  1. Faktor keinginan diri untuk melakukan kebiasaan pelanggaran yang selama ini sudah dianggap sebagai hal biasa dikalangan masyarakat (pengguna jalan), sehingga membuatnya melakukan pelanggaran pada APILL Bangjo Ngoresan secara berkesinambungan.
  2. Faktor Situasional diantaranya adalah terdapatnya desakan bagi kebanyakan mahasiswa karena terlamabat untuk melakukan kuliah di jam-jam tertentu, sehingga siatusi ini mendorong untuk melakukan pelanggaran yang kerap terjadi.
  3. Faktor persepsi tentang beradaan APILL Bangjo Ngoresan yang dilakukan pembangunan tanpa adanya perencanaan yang metang dengan di ukur dari intensitas pengendara dan letaknya yang dianggap kurang strategis.

Saran

Pemerintah diharapkan dapat mengkaji ulang adanya APILL Bangjo Ngoresan yang dianggap kurang memberikan kebermanfaaatan bagi masyarakat (pengguna jalan). Hal ini lantaran jika dibiarkan dapat menjadi pendorong pada pelanggaran APILL yang umum ada di Kota Surakarta.

Nah, itulah tadi artikel yang bisa kami kemukakan pada semua pembaca berkenaan dengan contoh penelitian kualitatif dalam Bab 4 dan Bab 5. Semoga bisa memberikan penduan bagi kalian semuanya yang sedang membutuhkannya.

Gambar Gravatar
Saya mencintai dan suka menulis terkait pendidikan dan penelitian. Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat untuk kalian yang membutuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *