Macam Landasan Teori dan Penjelasannya

Diposting pada

Jenis Landasan Teori

Semua peneliti harus mempertimbangkan dasar teoritis untuk penelitian mereka sejak awal dalam tahap perencanaan. Teori dapat diterapkan pada banyak tahap proses penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif, dan metode campuran. Termasuk dalam hal ini memberikan alasan untuk penelitian, mendefinisikan tujuan dan pertanyaan penelitian, mempertimbangkan pendirian metodologis, mengembangkan pengumpulan data dan perangkat pembangkitan, menyediakan kerangka kerja untuk teknik analisis data, dan interpretasi.

Dalam menyusun laporan penelitian, teori-teori yang kita jadikan sebagai acuan biasanya dituliskan pada bab tersendiri, biasanya Bab II yang berisi landasan teori, yang dilengkapi juga dengan kerangka berpikir. Macam-macam penulisan landasan teori dalam penelitian didasarkan pada jenis penelitian yang dipilih, apakah penelitian kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran, yang masing-masing memiliki prosedur penulisan yang berbeda.

Landasan Teori

Teori harus menjelaskan mengapa sesuatu terjadi, bukan hanya menggambarkan atau memprediksi. Perhatikan bahwa dimungkinkan untuk memprediksi peristiwa atau perilaku menggunakan seperangkat alat prediksi, tanpa perlu menjelaskan mengapa peristiwa tersebut terjadi.

Sebaliknya, penjelasan membutuhkan sebab-akibat, atau pemahaman tentang hubungan sebab-akibat. Membangun sebab-akibat memerlukan tiga kondisi:

  1. Korelasi antara dua konstruk
  2. Prioritas temporal (penyebabnya harus mendahului efek dalam waktu)
  3. Penolakan hipotesis alternatif (melalui pengujian)

Teori-teori dalam karya tulis ilmiah berbeda dari penjelasan teologis, filosofis, atau lainnya dalam hal teori-teori ilmiah dapat diuji secara empiris menggunakan metode ilmiah. Teori-teori itulah yang akan menjadi landasan menjawab pertanyaan penelitian dan landasan dalam melakukan penelitian secara keseluruhan.

Teori yang digunakan dalam penelitian bukanlah sekedar pendapat dari pengarang atau pendapat lain, tapi teori yang benar-benar sudah teruji kebenarannya. Dalam menuliskan landasan teori, menurut (Hadi Sabari Yunus, 2010) terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Nama pencetus teori
  2. Tahun dan tempat pertama kali
  3. Uraian ilmiah teori
  4. Relevansi teori yang dipilih dengan usaha peneliti untuk mencapai tujuan atau target penelitian

Macam Landasan Teori

Berikut ini macam-macam teori berdasarkan jenis penelitian yang dilakukan, antara lain:

  1. Landasan Teori Penelitian kuantitatif

Sebelum membahas teori kuantitatif, peneliti harus memahami berbagai variabel dan jenisnya yang akan digunakan dalam membangun teori kuantitatif.  Adapun jenis-jenis variabel yang biasanya digunakan dalam penelitian diantaranya yaitu:

  1. Variabel bebas atau independen
  2. Variabel terikat atau dependen
  3. Variabel intervening atau mediating
  4. Variabel moderating
  5. Variabel kontrol
  6. Variabel pengacau

Teori dalam penelitian kuantitatif (theory in quantitative research) dapat diartikan sebagai seperangkat gagasan konstrak (atau variabel) yang saling berhubungan, yang berasosiasi dengan proposisi atau hipotesis yang memerinci hubungan antarvariabel. Fungsi teori dalam sutu penelitian bisa saja sebagai argumentasi, pembahasan, atau alasan.

Dalam proposal penelitian kuantitatif, peneliti bisa menegaskan teorinya dalam berbagai bentuk:

  • Peneliti menegaskan teori dalam bentuk pernyataan hipotesis-hipotesisi yang saling berhubungan. Contohnya: semakin tinggi pangkat seseorang, semakin kuat sentralitasnya.
  • Peneliti menyatakan teori dalam bentuk pernyataan “jika-maka” untuk menunjukkan mengapa seseorang harus berharap variabel bebas bisa mempengaruhi variabel terikat.
  • Peneliti menyajikan teori dalam bentuk visual. Bentuk visual ini penting untuk menerjemahkan variabel-variabel ke dalam gambar visual.
  1. Landasan Teori Penelitian kualitatif

Dalam berbagai macam penelitian kualitatif, para peneliti menggunakan teori dalam penelitian untuk tujuan-tujuan yang berbeda:

  1. Dalam penelitian kualitatif, teori seringkali digunakan untuk menjelaskan perilaku dan sikap tertentu. Teori tersebut dapat menjadi sempurna dengan adanya variabel, konstrak, dan hipotesis penelitian.
  2. Para peneliti kualitatif seringkali menggunakan perspektif teoritis sebagai pedoman umum untuk meneliti gender, kelas, dan ras (atau masalah lain mengenai kelompok marginal).
  3. Dalam penelitian kualitatif, teori seringkali digunakan sebagai poin akhir penelitian, artinya peneliti menerapkan proses penelitiannya secara induktif yang berlangsung dari data, lalu ke tema-tema umum, kemudian menuju teori atau model tertentu.
  4. Beberapa penelitian kualitatif tidak menggunakan teori yang terlalu eksplisit. Hal itu bisa saja disebabkan karena 2 hal, yakni;
  • Tidak ada satu pun penelitian kualitatif yang dilakukan dengan observasi yang “benar-benar umum”;
  • Struktur konseptual sebelumnya yang disusun dari teori dan metode tertentu telah memberikan starting point bagi keseluruhan observasi (Schwandt, 1993 dalm Creswell, 2016).
  1. Landasan Teori Penelitian Campuran

Teori dalam penelitian metode campuran bisa diterapkan secara deduktif, misalnya dengan pengujian atau verifikasi teori kuantitatif atau secara induktif, misalnya dengan pemunculan teori atau pola kuantitatif.

Selain itu, terdapat beberapa cara unik yang memasukkan sebuah teori ke dalam penelitian metode campuran dimana peneliti mengumpulkan, menganalisis, dan menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan rancangan metode campuran yang berbeda.

Kerangka kerja tersebut dibagi menjadi bentuk, yang keduanya muncul dalam literatur metode campuran selama lebih dari 5-10 tahun belakangan ini.

  • Menggunakan kerangka kerja ilmu sosial

Teori ilmu sosial bisa menjadi kerangka berpikir kerja yang menyeluruh dalam penelitian metode campuran. Teori ilmu pengetahuan sosial bisa diambil dari beragam teori yang dijumpai dalm ilmu social, misalnya kepemimpinan, ekonomi, ilmu politik, pemasaran, perubahan perilaku, adopsi atau difusi teori-teori ilmu sosial apapun.

  • Menggunakan kerangka kerja transformatif

Penerapan dan akseptabilitas teori-teori transformatif dalam penelitian metode campuran berkembang semakin banyak dalam dekade terakhir ini. Dorongan tersebut berasal dari karya Mertens (2003, 2009) dalam Creswell (2016), yang bukan hanya menyampaikan tujaun utama teori ini, tapi juga bagiamana tujuan tersebut digunakan menjadi proses penelitian umum dan metode campuran.

Selian macam-macam teori berdasarkan jenis penelitian seperti yang tekah disebutkan di atas, ada pula jenis teori yang menggambarkan kenyataan berdasarkan bukti empiris, yang disebut teori deskriptif atau empiris, dan juga teori yang memberi tahu kita bagaimana hal-hal seharusnya terjadi, yang disebut teori normatif. Teori-teori ini biasanya digunakan dalam ilmu sosial maupun politik.

  • Teori Deskriptif/Empiris

Ilmu sosial berusaha mengembangkan teori empiris. “Empiris” mengacu pada hal-hal yang dapat dialami melalui panca indera melihat, mendengar, menyentuh, mencicipi, atau (dalam kasus korupsi politik) berbau. “Teori” pada dasarnya berarti penjelasan. Teori politik empiris, kemudian, adalah penjelasan mengapa orang berperilaku seperti mereka secara politis.

Pendekatan ini telah menjadi bagian yang sangat penting dalam ilmu politik. Pada tahun 2001, misalnya, hampir tiga perempat artikel dalam tiga jurnal ilmiah teratas dalam disiplin ilmu tersebut (American Political Science Review, American Journal of Political Science, dan Journal of Politics) memasukkan analisis data empiris.

Jika seorang ilmuwan sosial (atau orang lain) mengamati orang yang terlibat dalam perilaku politik, ia perlu fokus pada karakteristik tertentu dari orang yang diamati. Pengamat mungkin bertanya-tanya mengapa beberapa orang berbeda dari yang lain dalam karakteristik politik mereka.

  1. Landasan Teori Normatif

Karena ilmu sosial terbatas pada mempelajari apa yang dapat diuji secara empiris, ada banyak pertanyaan penting tentang politik yang berada di luar cakupannya. Karena itu, juga sentral bagi ilmu politik adalah apa yang disebut “filsafat politik” atau “teori normatif.”

Sedangkan teori sosial empiris berusaha menjelaskan mengapa orang berperilaku seperti itu, teori normatif mencari standar untuk menilai bagaimana kita seharusnya berperilaku. Contohnya termasuk hanya teori perang dan teori tentang pemerataan kekayaan, kekuasaan, atau sumber daya lainnya.

Para ahli teori empiris dan normatif sering bertengkar tentang nilai relatif dan validitas masing-masing bagian disiplin, pertikaian yang dimanifestasikan dalam beberapa tahun terakhir dalam argumen untuk dan menentang gerakan “Perestroika”.

Namun, kedua pendekatan tersebut diperlukan untuk studi politik yang komprehensif. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Aristoteles berhasil menggabungkan kedua pendekatan dalam studinya tentang negara-kota Yunani, mengklasifikasikan mereka dalam hal apakah rezim mereka adil (masalah teori normatif) dan apakah kekuasaan ada di tangan yang satu, sedikit, atau banyak (pertanyaan empiris).

Itulah tadi penjelasan dan uraian lengkap yang bisa kami bagikan pada segenap pembaca. Berkaitan dengan macam landasan teori dalam penelitian kualitatif, kuantitatif, campuran, normatif, dan penjelasannya secara tuntas. Semoga bisa memberikan edukasi bagi semuanya.

Gambar Gravatar
Saya mencintai dan suka menulis terkait pendidikan dan penelitian. Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat untuk kalian yang membutuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *