Contoh Laporan Praktikum Mahasiswa

Diposting pada

Contoh Laporan Praktikum Mahasiswa

Laporan praktikum mahasiswa bisa dikatakan sebagai serangkaian kegiatan dalam karakteristik ilmiah yang menekankan pentingnya belajar dengan melakukan atau dalam Bahasa Inggris learning by doing. Di sinilah setiap mahasiswa/i sejatinya dapat mentransfer pengetahuan pada pekerjaan yang sebenarnya, lantaran kepenulisannya yang bersifat sistematis.

Disisi lain, istilah praktikum sejatinya berasal dari kata praktik yang memiliki arti pelaksanaan secara nyata apa yang disebut dalam landasan teori. Sehingga secara lebih rinci praktik dianggap sebagai tindakan melatih perilaku berulang kali atau terlibat dalam suatu aktivitas berulang kali dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan dalam melakukannya. Oleh karena itulah, bagi mahasiswa istilah praktikum sudah tidak asing lagi. Apalagi untuk mata pelajaran IPA seperti kimia, biologi, matematika, fisika, pertanian, kesehatan, dan lain sebagainya.

Laporan Praktikum Mahasiswa

Laporan praktikum adalah suatu cara dimana setiap mahasiswa melakukan percobaan atau eksperimen dengan mengalami untuk membuktikan sendiri suatu pertanyaan yang dipelajari sehingga kemudian hari bisa mengembangkan sikap ilmiah dalam dirinya.

Sehingga terkait ilmu yang dipelajari setiap mahasiswa dapat bermanfaat dalam kepenulisan tugas akhir, bahkan bisa membuka banyak peluang untuk berjejaring dan membuat kontak penting dengan orang-orang yang berada di tempat praktikum dilakukan.

Contoh Laporan Praktikum Mahasiswa

Nah, sebagai penjelasan yang lebih mendalam. Berikut ini merupakan contoh penulisan dan pembuatan laporan praktikum untuk mahasiswa. Misalnya saja mengangkat topik pertanian, dengan tema;

Pengaruh Umur Panen Terhadap Mutu Benih Jagung (Zea Mays L)

Maka, untuk struktur dan bagian pada laporan praktikum terbut. Yakni;

Halaman Depan Laporan Praktikum Mahasiswa

Halaman Sampul Laporan Praktikum Mahasiswa

BAB 1 Pendahuluan Praktikum Mahasiswa

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Prinsip umum pengolahan benih adalah memproses calon benih menjadi benih dengan tetap mempertahankan mutu yang telah dicapai.  Apabila benih itu ditanam akan mampu bertahan selama perkembangan hidupnya serta mampu memberikan produk yang baik.  Dalam pembentukan benih terdapat stadia yaitu stadia pembentukan, matang morfologis, perkembangan benih, masak fisiologis dan masak penuh.

Benih yang telah masak fisiologis menghasilkan bobot kering benih, daya berkecambah dan vigor maksimum.  Benih dikatakan masak secara fisiologis dan siap untuk dipanen, apabila zat makanan dari benih tersebut tidak lagi tergantung dari pohon induknya, yang umum ditandai dengan perubahan warna kulitnya.  Waktu yang paling baik untuk pengumpulan benih adalah segera setelah benih itu masak. Masaknya buah (benih) umumnya terjadi secara musiman, walaupun cukup banyak juga jenis-jenis pohon yang menghasilkan buah masak tetapi tidak mengikuti musim yang jelas.

Benih yang berasal dari pemanenan yang tidak sama akan menyebabkan ketidak seragaman pertumbuhan dilapang, hingga muncul berbagai kesulitan diantaranya perawatan, pemanenan dan lain sebagainya.

Benih yang dipanen ketika masak fisiologis akan menunjukkan pertumbuhan dan produksi yang optimal, sedangkan benih yang dipanen sebelum maupun sesudah masak fisiologis pertumbuhan dan produksinya tidak akan optimal.  Hal ini dapat disebabkan karena benih tersebut belum sempurna (pada panen sebelum masak fisiologis) atau telah memasuki masa penuaan (pada panen sesudah masak fisiologis).

Dengan melihat pentingnya hal tersebut maka perlu dilakukan suatu pengujian terhadap pengaruh waktu panen mutu benih yang akan dihasilkan sehinga benih diketahui kualitasnya.  Praktikum kali ini menggunakan benih jagung sebagai bahannya.

Jagung ditanam pada petak kemudian dibuat variasi waktu umur panen.  Dari variasi waktu umur panen tersebut dapat dilihat bagaimana perbedaan mutu fisik, genetik, dan fisiologis dari tiap waktunya, serta dapat ditentukan umur panen yang paling tepat untuk melakukan pemanenan jagung yang akan digunakan sebagai benih.

Tujuan Praktikum 

Contoh tujuan dilakukan praktikum ini sebagai berikut:

  1. Menentukan umur paling tepat untuk melakukan pemanenan jagung sebagai benih.
  2. Membandingkan mutu fisik, mutu genetik, dan mutu fisiologis benih jagung pada setiap variasi umur panen.
  3. Mengetahui teknik budidaya jagung untuk produksi benih.
  4. Mengetahui berbagai faktor yang berpengaruh terhadap mutu benih.
BAB 2 Tinjaun Pustaka Praktikum Mahasiswa

BAB 3 Metodologi Praktikum Mahasiswa

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.  Pada hari Selasa, 12 September 2021.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu sabit, cangkul, meteran, koret, tali raffia, selang air (gembor), timbangan, alat tulis. Sedangkan bahan yang dibutuhkan berupa benih jagung, air, pupuk urea, SP-36, dan NPK.

Teknik Budidaya

  1. Olah Tanah
  1. Dilakukan pengeplotan areal lahan yang akan digunakan untuk budidaya jagung sebagai produksi benih seluas 3 m x 7 m/plot.
  2. Dibuat 2 plot dengan tali raffia untuk penandaan sehingga mempermudah untuk mengetahui batasan yang harus diolah.
  3. Dibabat semak belukar atau vegetasi yang tumbuh diatas lahan agar tidak mengganggu proses produksi benih.
  4. Setelah selesai dibabat, kemudian lahan dicangkul hingga tanah gembur dan mudah untuk dilakukan proses penanaman.
  5. Dibuat jarak antar plot sehingga dapat dibedakan antara plot ke-1 dengan plot ke-2.
  6. Tanah yang sudah gembur siap untuk dilakukan proses penanaman.
  1. Penanaman
  1. Dibuat jarak tanam 75 cm x 25 cm dalam plot yang ada.
  2. Dalam 1 plot dibuat 7 baris tanam dengan rincian baris (border, 80 HST, 85 HST, 90 HST, 95 HST, 100 HST, border). Border berfungsi sebagai kontrol (tanpa perlakuan umur panen khusus).
  3. Dibuat lubang penanaman jagung pada baris-baris tersebut.
  4. Ditanam jagung sebanyak 2 benih/lubang tanam. Penanaman 2 benih/lubang tanam bertujuan untuk mengantisipasi benih jagung yang tidak tumbuh.  Lubang yang tumbuh lebih dari 2 tanaman jagung, maka tanaman tersebut harus dicabut sehingga jumlah tanaman tiap lubang sama.
  5. Dilakukan penyiraman setelah dilaksanakan penanaman. Penyiraman pada proses awal ini sangat penting karena benih yang baru ditanam membutuhkan ketersediaan air yang cukup untuk melakukan proses perkecambahan. Air tersebut akan mengaktivkan beberapa enzim perkecambahan melalui proses imbibisi.
  1. Pemupukan
  1. Dilakukan pemupukan dengan dosis pupuk urea 350 Kg/Ha, SP-36 200 Kg/Ha, KCl 100 Kg/Ha.
  2. Dilakukan pemupukan pada 1 MST dengan rincian 250 Kg/Ha pupuk urea, 50 Kg/Ha pupuk KCl, 200 Kg/Ha SP-36. Urea dan KCl diberikan dengan 2 tahapan pemupukan karena pupuk tersebut mudah tercuci oleh tanah sehingga pemberian harus dilakukan secara bertahap agar pupuk tersebut cukup tersedia untuk diserap oleh akar tanaman.  Sedangkan SP-36 diberikan dalam satu waktu pada awal pemupukan karena SP-36 sukar larut dalam air, sehingga akan sukar diserap oleh akar tanaman.  Oleh karena itu, SP-36 diaplikasikan seluruh dosis diawal pemupukan agar cepat tersedia untuk tanaman.
  3. Dilakukan pemupukan pada 2 MST dengan rincian 100 Kg/Ha pupuk urea, 50 Kg/Ha pupuk KCl. Dosis pemupukan urea pada pemupukan pertama lebih besar daripada pemupukan kedua.  Hal ini disebabkan karena pada awal fase pertumbuhan, tanaman lebih banyak membutuhkan nitrogen untuk mendukung fase vegetatif.
  4. Dibuat 1 lubang tugalan setiap 2 lubang tanam. Jadi pemupukan dilakukan dengan cara ditugal pada baris tanaman tersebut.
  5. Dilakukan penyiraman setelah dilakukan pemupukan supaya pupuk yang diaplikasikan cepat larut dalam air dan pupuk dapat diserap oleh akar tanaman.
  1. Pemeliharaan dan Pengamatan
  1. Dilakukan pemeliharaan seperti penyiangan, penyiraman, dan pengendalian hama penyakit tanaman. Penyiangan pada lahan budidaya bertujuan untuk mengurangi kompetisi gulma yang tumbuh disekitar tanaman jagung sebagai tanaman utama. Keberadaan gulma dapat menimbulkan kompetisi air, cahaya, dan ruang tumbuh, sehingga proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung dapat terganggu.
  2. Dilakukan penyiraman setiap hari dengan dibagi sistem piket tiap anggota kelompok. Ketersediaan air saat fase vegetatif sangat penting karena pada fase tersebut tanaman jagung sangat aktif melakukan proses perkecambahan dan fotosintesis untuk menghasilkan fotosintat sehingga tanaman mampu mencapai fase berikutnya yaitu fase reproduktif.
  3. Dilakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman jika terdapat HPT yang menyerang. Budidaya dalam produksi benih harus lebih intensif dalam hal pemeliharaan dibandingkan produksi untuk konsumsi pangan.
  4. Dilakukan pengamatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung tersebut. Saat fase vegetatif, diamati tinggi tanaman dan jumlah daun dengan cara mengukur serta menghitung.  Kemudia saat fase reproduktif diamati waktu kemunculan bunga serta dihitung jumlah bunga jantan dan betina yang muncul.  Pengamatan ini dilakukan pada sampel saja. Dalam 1 baris terdapat 3 sampel sehingga jumlah total sampe sebanyak 21.
  1. Panen
  1. Dilakukan pemanenan sesuai dengan perlakuan setiap baris.
  2. Baris ke-1 dan baris ke-4 merupakan border. Baris ke-2 dipanen ketika 80 HST, baris ke-3 85 HST, baris ke-4 90 HST, baris ke-5 95 HST, dan baris ke-6 100 HST.
  1. Pengujian Mutu Benih Secara Laboratorium
  1. Benih yang sudah dipanen dilakukan proses pengujian secara laboratorium. Pengujian berkaitan dengan mutu fisik, genetik, dan fisologis benih tersebut.
  2. Dilakukan pengujian daya berkecambah, kadar air, dan lain-lain. Hasil dari pengujian tersebut dapat dibandingkan sehingga akan terlihat pada umur panen keberapa benih jagung memiliki mutu paling unggul.
  1. Variabel Pengamatan
Fase Vegetatif Tinggi tanaman dan jumlah daun
Fase Reproduktif Jumlah bunga dan waktu kemunculan bunga
BAB 3 Daftar Pustaka Praktikum Mahasiswa

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen TPH. 1985. Pedoman Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikulturan Wilayah III Jawa Timur. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura. Malang.

Manrapi, A. 2007. Petunjuk teknis produksi benih sumber jagung komposit (bersari bebas). Balai Penelitian Tanaman Serealia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Kementerian Pertanian.

Mugnisah, W.Q. 1990. Pengantar Produksi Benih.  Rajawali press. Jakarta.

Syamsuddin, & Rahmawati. 2013. Pengujian mutu benih jagung dengan beberapa metode. Seminar Nasional. Balai Penelitian Tanaman Serealia dan Loka Pengkajian Teknologi Pertanian. Sulawesi Barat.

Wakman, W. 2004. Bercak daun kelabu, penyakit utama kedua pada jagung di dataran tinggi. Seminar Mingguan. Balai Penelitian Tanaman Serealia

Nah, itulah saja tulisan yang bisa kami bagikan pada semua kalangan berkenaan dengan contoh laporan praktikum mahasiswa dari Bab 1 sampai dengan Bab 3. Semoga saja bisa berguna bagi kalian yang sedang membutuhkan referensinya.

Gambar Gravatar
Saya mencintai dan suka menulis terkait pendidikan dan penelitian. Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat untuk kalian yang membutuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *