Contoh Laporan Praktikum

Diposting pada
Rate this post

Contoh Laporan Praktikum yang Baik dan Benar

Praktikum bisa dikatakan sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan di laboratorium dengan sistem pelaksanaan praktik dengan atau tanpa bimbingan guru, dosen, asisten di laboratorium. Atas dasar inilah beberapa kajian ilmu eksakta dalam cabang studi IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) seperti kimia, biologi, pertanian, fisika, teknik, bahkan matematika seringkali melakukannya.

Disisi lain, untuk proses pembuatan format laporan praktikum bisa dikatakan sulit lantaran cara penyajian yang disusun secara aktif haruslah sesuai struktur agar hasilnya mampu membuktikan terkait apa yang telah dipelajarinya. Baik secara manual artinya ditulis dengan tangan ataupun menggunakan laptop.

Praktikum

Laporan praktikum adalah kegiatan belajar yang berbentuk kegiatan observasi ilmiah terhadap suatu objek penelitian atau berbentuk kegiatan dalam percobaan berdasarkan pengujian di laboratorium yang bisanya senantisa diikuti dengan analisis serta penyimpulan terhadap hasil pengamatan atau pengujian tersebut.

Contoh Laporan Praktikum

Sebagai penjelasan lebih lanjut, berikut ini merupakan contoh penyusunan laporan hasil penelitian praktikum dari awal hingga akhir.

  1. Biologi

Laporan Praktikum Biologi

Biologi menjadi salah satu kajian ilmu alam yang berhubungan dengan tanaman, struktur tubuh, reproduksi tubuh, dan lain sebagainya. Untuk penulisannya sendiri. Misalnya pada laporan praktikum ini bertemakan “Pengendalian Penyakit Tanaman Menggunakan Pestisida Sintetik.

Maka kepenulisannya;

Laporan Praktikum Biologi

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pestisida secara umum diartikan sebagai bahan kimia beracun yang digunakan untuk mengendalikan  organisme penganggu tanaman yang merugikan kepentingan manusia. Pestisida dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain herbisida, insektisida, rodentisida, akarisida, fungisida, nematisida dan bakterisida. Adanya jenis-jenis pestisida tersebut, maka penggunaan pestisida harus tepat sasaran agar memenuhi lima tepat pengaplikasian pestisida yang terdiri dari tepat sasaran, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat jenis (Triharso, 2004).

Pestisida sintetik yaitu pestisida yang bahan aktifnya dibuat menggunakan senyawa kimia sintetik. Pestisida dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, tingkah laku, perkembangbiakan, kesehatan, sistem hormon, sistem pencernaan, serta aktivitas serangga yang mengganggu tanaman. Pengenalan pestisida sintetik ini sangat penting karena penggunaan tidak dapat digunakan secara sembarangan, apabila digunakan secara sembarangan dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan. Oleh karena itu, penggunaan pestisida sintetik harus memerhatikan informasi atau keterangan penting pada label (Djojosumarto, 2008).

Label pestisida umumnya berisi nama dagang, bahan aktif, berat kemasan, formulasi, warna, bentuk pestisida, dosis dan lain-lain. Sebelum menggunakan pestisida kita harus memahami semua informasi tentang pestisida tersebut, sehingga kita mampu menggunakan pestisida secara baik dan benar. Oleh karena itu, sangat penting dilakukan praktikum pengenalan bahan dalam pengendalian penyakit tanaman menggunakan pestisida sintetik agar kita mengenal kemasan, formulasi, warna, bentuk pestisida untuk pengendalian patogen tumbuhan dan mengetahui nama dagang, konsentrasi bahan aktif, dosis, dan cara penggunaan, sasaran pestisida yang umum dijumpai dipasaran.

Tujuan

Adapun tujuan praktikum ini sebagai berikut :

  1. Mengenal kemasan, formulasi, warna, bentuk pestisida untuk pengendalian patogen tumbuhan yang umum dijumpai di pasaran
  2. Mengetahui nama dagang, dan konsentrasi bahan aktif, dosis dan cara penggunaan, sasaran pestisida yang umum dijumpai di pasaran

METODOLOGI PERCOBAAN

Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu alat tulis. Sedangkan bahan yang dibutuhkan berupa contoh pestisida, baik dalam kemasan ataupun gambar. 

Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja yang harus dilakukan pada praktikum ini yaitu :

  1. Mengamati masing-masing contoh atau gambar pestisida yang disediakan
  2. Menggambar kemasan pestisida tersebut
  3. Mencatat keterangan yang tertera di labelnya; nama dagang, bahan aktif, konsentrasi bahan aktif, warna, formulasi, cara penggunaan, sasaran, dosis, jenis pestisida (kontak/sistemik), gejala dini keracunan, pertolongan pertama serta produsen yang memproduksi

HASIL DAN PEMBAHASAN

Polycom

Nama dagang Polycom 70 WG
Nama bahan aktif Metiran
Konsentrasi bahan aktif WG
Formulasi 70%
Cara penggunaan Dilarutkan dengan air lalu disemprotkan pada sasaran
Sasaran Busuk daun (Phytophthora infestans)
Dosis 0,5-2,0 gr/l
Jenis pestisida Kontak (Jenis pestisida yang akan bekerja
dengan baik jika terkena langsung dengan patogen sasaran) (Miller, 2004)
Gejala dini keracunan Gemetar, lumpuh separuh, kejang
Petunjuk pertolongan pertama Cuci kulit yang terkena dengan sabun dan air
Produsen PT. BASF Indonesia

Aliette

Nama dagang Aliette 100 CA
Nama bahan aktif Aluminium Fosetil
Konsentrasi bahan aktif 100
Formulasi CA
Cara penggunaan Disemprotkan langsung pada sasaran
Sasaran Phytophthora palmivora
Dosis 40-80 ml/pohon
Jenis pestisida Sistemik (Pestisida yang akan bekerja dengan baik jika yang telah disemprotkan meresap masuk ke dalam jaringan tanaman yang terdapat patogen tumbuhan) (Djojosumarto, 2008)
Gejala dini keracunan Pusing, sakit kepala, perut mulas
Petunjuk pertolongan pertama Cuci bagian kulit yang terkena dengan sabun dan air
Produsen PT. Agrocarb Indonesia

Amistar

Nama dagang Amistar Top 325 SC
Nama bahan aktif Azoksistrobin dan difenokonazol
Konsentrasi bahan aktif 200 gr/l dan 125 gr/l
Formulasi SC
Cara penggunaan Dicampur dengan air lalu disemprotkan pada sasaran
Sasaran Pestalotiopsis palmarun
Dosis 1-1,5 ml/l
Jenis pestisida Sistemik
Gejala dini keracunan Gejala sensitifitas
Petunjuk pertolongan pertama Tanggalkan pakaian dan cuci bagian kulit yang terkena dengan sabun dan air
Produsen PT. Sygenta Indonesia

Ridomil

Nama dagang Ridomil 35 SD
Nama bahan aktif Metalaksil
Konsentrasi bahan aktif 35%
Formulasi SD
Cara penggunaan Dilarutkan dengan air lalu disemprotkan pada sasaran
Sasaran Sclerospora maydis
Dosis 5 gr/ 75 ml air
Jenis pestisida Sistemik
Gejala dini keracunan Sedasi, sesak napas, bola mata menonjol (eksoptalmus)
Petunjuk pertolongan pertama Tanggalkan pakaian dan cuci bagian kulit yang terkena dengan sabun dan air
Produsen PT. Citraguna Saranatama

Folirfos

Nama dagang Folirfos 400 SL
Nama bahan aktif Asam fosfit
Konsentrasi bahan aktif 400 gr/l
Formulasi SL
Cara penggunaan Dicampur dengan air lalu disemprotkan pada sasaran
Sasaran Plasmopora viticola
Dosis 1-2 ml/l
Jenis pestisida Sistemik
Gejala dini keracunan Mulut dan tenggorokan terasa terbakar dan berwarna kecoklatan
Petunjuk pertolongan pertama Tanggalkan pakaian dan cuci bagian kulit yang terkena dengan sabun dan air
Produsen PT. Mitra Kreasidharma

Delsene

Nama dagang Delsene MX-80 WP
Nama bahan aktif Karbendazim dan mankozeb
Konsentrasi bahan aktif WP
Formulasi SL
Cara penggunaan Dilarutkan dengan air lalu disemprotkan pada sasaran
Sasaran Cercospora sp
Dosis 1-2 ml/l
Jenis pestisida Sistemik dan kontak
Gejala dini keracunan Badan lemah, pusing, kulit terangsang, dan mata pedih
Petunjuk pertolongan pertama Tanggalkan pakaian dan cuci bagian kulit yang terkena dengan sabun dan air
Produsen PT. Dupont Agricultural Product Indonesia

KESIMPULAN

Adapun arti kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum ini sebagai berikut:

  1. Pestisida sintetik yang dijumpai di pasaran umumnya berada dalam kemasan plastik atau botol, dengan formulasi cair dan padat
  2. Bahan aktif yang terkandung setiap kemasan umumnya dalam konsentrasi dibawah 100%, digunakan dengan cara melarutkan dalam air, dan sasaran jamur maupun bakteri

DAFTAR PUSTAKA 

Djojosumarto, Panut. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. PT Agromedia Pustaka. Jakarta.

Miller. 2004. Ilmu Penyakit Tumbuhan Edisi Ketiga. Gadjah Mada University

Press. Yogyakarta.

Triharso. 2004. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press . Yogyakarta.

  1. Kimia

Laporan Praktikum Kimia

Biasanya untuk laporan praktikum mahasiswa dalam bidang kimia lebih berfokus pada replikasi prosedur yang identik dengan harapan menghasilkan hasil yang identik di setiap replikasi. Sehingga prihal ini tugas acak jarang terjadi. Tetapi yang pasti, dalam bidang studi kimia terjadi prevalensi penelitian eksperimental sangat bervariasi.

Contoh untuk praktikum kimia ini. Misalnya saja terkait dengan pengamatan profil boring dan profil gali (lahan kering dan lahan sawah)

Laporan Praktikum Kimia

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Survai tanah merupakan istilah umum utk penyelidikan tanah sistematik dilapangan di laboratorium deskripsi klasifikasi pemetaan jenis tanah penafsiran (interpretasi) tanah menurut kesesuaian tanah bagi tanaman rumput pohon serta perilaku tanah dibawah pemakaian atau perlakuan utk produktivitas dalam pengelolaan yg berbeda-beda.

Survai tanah dilakukan utk menentukan tingkat kemampuan lahan secara keseluruhan sebagai bahan pemetaan tanah dalam hubungan dgn penentuan klasifikasi tanah. Lahan-lahan yg telah disurvai digolongkan dala kelas-kelas yg sesuai dgn kemampuan berdasarkan dgn faktor-faktor yg bersifat menghambat dalam pemanfaatan lahan tersebut terutama utk bidang pertanian.

Faktor-faktor yg menunjang adl data-data mengenai sifat fisik kimia dan biologi tanah termasuk bentuk wilayah iklim dan lain-lain secara keseluruhan baik sampai sangat baik.  Faktor-faktor penghambat seperti sifat-sifat fisik kimia dan biologi tanah yg jelek keadaan iklim yg tak sesuai bentuk wilayah berlereng dan berbukit-bukit sering terjadi genangan air serta salinitas yg tinggi.

Evaluasi lahan umumnya merupakan kegiatan lanjutan dari survei dan pemetaan tanah atau sumber daya lahan lainnya, melalui pendekatan interpretasi data tanah serta fisik lingkungan untuk suatu tujuan penggunaan tertentu. Sejalan dengan dibedakannya macam dan tingkat pemetaan tanah, maka dalam evaluasi lahan juga dibedakan menurut ketersediaan data hasil survei dan pemetaan tanah atau survei sumber daya lahan lainnya, sesuai dengan tingkat dan skala pemetaannya.

Tujuan

Tujuan dari laporan praktikum ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui perbandingan tekstur tanah pada lahan kering dan lahan sawah
  2. Mengetahui perbandingan pH (tingkat kemasaman) pada lahan kering dan lahan sawah
  3. Mengetahui warna tanah pada lahan sawah

 TINJAUAN PUSTAKA

Tanah sebagai akumulasi tubuh alam bebas yang menduduki sebagian besar permukaan bumi, mampu menumbuhkan tanaman karena memiliki sifat-sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula (Sutanto, 2005).

Tanah adalah lapisan permukaan bumi (natural body) yang berasal dari bebatuan (natural material) yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam (natural force), sehingga membentuk regolit (lapisan berpartikel halus) (Hanafiah, 2010).

Tanah adalah kumpulan benda alam dipermukaan bumi terbentu dari mineral-mineral dan bahan-bahan organik, mengandung benda-benda hidup dengan gejala-gejala serta dapat mendukung kehidupan tumbuhan-tumbuhan di lapangn.selanjutnyadisebutan bahwa devenisi tanah. ini berarti tanah yang yang diklasifikasikan bukkanlah hanya bagian tanah yang memiliki horizon-horizon atau solumtanahnnyasaja,tetapi juga bagian tanah dibawah solum asalkan gejala-gejala kehidupan masih ditemukan (Hanafiah, 2010).

Lahan adalah bagian dari bentang alam (landscape) yang mencakup  pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, tanah, hidrologi, dan  bahkan keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya secara  potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan (Djaenudin dkk, 2010)

Survey merupakan pekerjaan pengumpulan data fisika, kimia di lapangan maupun data analisis di laboratorium dengan tujuan pendugaan penggunaan lahan tepat secara umum maupun khusus. Suatu tanah memiliki kegunaan jika tepat pemetaannya, tepat mencari lokasi yang di survey dan didukung oleh peta dasar yang baik, tepat dalam mendeskripsikan profil dalam menetapkan sifat morfologinya, teliti dalam pengambilan contoh tanah dan benar dalam menganalisa dilaboratorium (Abdullah, 2003).

Global Positioning System (GPS) adalah suatu sistem navigasi berbasis satelit yang digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan dan waktu yang akurat dipermukaan bumi. Prosesnya dimulai dengan sinyal yang dipancarkan oleh satelit GPS ke bumi, sinyal GPS ditangkap oleh Receiver GPS (posisi, kecepatan dan waktu diperoleh dari sinyal GPS yang diterima), kemudian GPS dikelola dan dimiliki oleh US DoD ( Anonim. 2011).

Faktor-faktor yg menunjang adalah data-data mengenai sifat fisik kimia dan biologi tanah termasuk bentuk wilayah iklim dan lain-lain secara keseluruhan baik sampai sangat baik.  Faktor-faktor penghambat seperti sifat-sifat fisik kimia dan biologi tanah yg jelek keadaan iklim yg tak sesuai bentuk wilayah berlereng dan berbukit-bukit sering terjadi genangan air serta salinitas yg tinggi. Setelah melakukan kegiatan survai dan pemetaan sumber daya lahan di lapangan kegiatan selanjut adl mengevaluiasi lahan.  Evaluasi lahan pada dasar merupakan proses utk menduga potensi sumber daya lahan utk berbagai penggunaan.  Adapun kerangka yg mendasar dari evaluasi sumber daya lahan adl membandingkan persyaratan yg diperlukan utk suatu penggunaan lahan tertentu dgn sifat sumber daya yg ada pada lahan tersebut (Sitorus 1983).

Sebelum melaksanakan evaluasi lahan, terlebih dahulu harus ditetapkan asumsi-asumsi yang akan diterapkan. Dalam hal ini apakah evaluasi lahan akan dilakukan dengan asumsi pada kondisi tingkat manajemen rendah (sederhana), sedang, atau tinggi. Evaluasi lahan untuk tujuan perencanaan pembangunan pertanian perkebunan besar dengan masukan teknologi tinggi, tentu berbeda asumsinya jika tujuan evaluasi lahan hanya untuk perkebunan rakyat yang cukup dengan masukan teknologi menengah. Demikian pula dalam hal penggunaan alat-alat pengolahan tanah dalam pembukaan lahan pertanian. Jika lahan akan diolah secara manual (cangkul atau bajak) maka asumsi yang dapat digunakan dalam menilai kualitas dan karakteristik lahan berbeda dengan penggunaan alat-alat berat (mekanik).

Sebagai contoh penilaian terhadap tekstur tanah yang liat dan/atau berkerikil untuk pengolahan tanah secara manual tidak terlalu bermasalah dibandingkan jika menggunakan alat mekanik. Kasus serupa dalam menghadapi kualitas lahan terrain dalam hal ini lereng. Pada lereng lebih besar dari 8% jika tanah diolah dengan menggunakan traktor merupakan masalah, tetapi tidak demikian kalau diteras dengan menggunakan alat pengolah tanah yang sederhana. (Rahmat, 2011).

METODOLOGI PRAKTIKUM

 Waktu dan Tempat

Adapun waktu dan tempat dilakukannya praktikum ini adalah 14 Oktober dan 22 Oktober 2021 di Lapangan terpadu Universitas Lampung.

Alat dan Bahan 

Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah bor tanah, buku warna munsell ( Munsell Soil Colour Chart ), ring sample, kompas, meteran, pH indikator, GPS( Global Position System ), pisau bergerigi, alat tulis, alat pengukur lereng( clinometer), kertas hasil pengamatan, botol film, dan peta dasar.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah air.

Prosedur Kerja 

Adapun prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

Profil Tebu

  1. Disiapkan alat dan bahan.
  2. Dicari tanda alam pohon kelapa dengan titik koordinat 48M 052715 dan UTM 9406590.
  3. Dicari arah utara menggunakan kompas dan sejajarkan pada peta dasar dengan bidang datar, sesuaikan dengan arah utara pada peta dasar, tentukan juga titik terjauh dari arah utara tersebut.
  4. Dilihat dan dicatat kemiringan lereng menggunakan clinometer.
  5. Dilakukan boring tanah pada setiap 24 meter.

Profil Boring Tebu

  1. Diboring tanah searah jarum jam sampai tidak bisa diputar lagi.
  2. Diletakkan diatas lapisan yang sudah disediakandengan urutan 0-20 cm, 20-40 cm, 40-60 cm,80-100 cm.
  3. Dilakukan boring sebanyak 5 kali.
  4. Ditentukan ada berapa lapisan dalam boring tersebut.
  5. Diukur kedalaman tiap lapisan menggunakan meteran.
  6. Ditentukan teksturnya dengan cara diambil tanah pada tiap lapisan , kemudian dibasahi air lalu dipijit/dipirid antara ibu jari dan telunjuk ( untuk menghancurkan bentuk sekunder) hingga membentuk bola lembek, sambil diperhatikan adanya rasa kasar atau licin di antara jari tersebut. Kemudian digulung-gulung sambil dilihat daya tahan terhadap tekanan, dan dilihat kelekatan massa tanah waktu telunjuk dan ibu jari ditolakkan.
  7. Ditentukan konsistensi dengan cara diambil tanah pada tiap lapisan, kemudian diremas, dipijit, atau dipirid dengan tangan .
  8. Ditentukan pH pada tiap lapisan dengan cara diambil tanah lalu dimasukkan kedalam botol film dan diberi air dengan perbandingan 1:2,5 yaitu 1 gram tanah untuk 2,5 ml air.

 Profil Gali Tebu

  1. Ditentukan ada berapa banyak lapisan dalam profil tebu.
  2. Ditentukan simbol lapisan.
  3. Ditentukan batas topografi dengan menggunakan pisau bergerigi secara horizontal.
  4. Ditentukan teksturnya dengan cara diambil tanah pada tiap lapisan , kemudian dibasahi air lalu dipijit/dipirid antara ibu jar dan telunjuk ( untuk menghancurkan bentuk sekunder) hingga membentuk bola lembek, sambil diperhatikan adanya rasa kasar atau licin di antara jari tersebut. Kemudian digulung-gulung sambil dilihat daya tahan terhadap tekanan, dan dilihat kelekatan massa tanah waktu telunjuk dan ibu jari ditolakkan.
  5. Ditentukan strukturnya dengan cara diambil gumpalan tanah ( sedapat mungkin dalam keadaan lembab) sebesar 10 cm3, kemudian dipecah dengan cara menekan dengan jari. Pecahan gumpalan tanah tersebut merupakan agregat.
  6. Ditentukan konsistensinya dengan cara diambil tanah pada tiap lapisan, kemudian diremas, dipijit, atau dipirid dengan tangan .
  7. Ditentukan karatan nya, apakah ada kelainan warna tanah akibat proses reduksi dan oksidasi. Karatan dalam penampang tanah ditentukan: jumlah, ukuran, bandingan, batas, dan bentuk.
  8. Ditentukan pH lapang dengan cara diambil tanah lalu dimasukkan kedalam botol film dan diberi air dengan perbandingan 1:2,5 yaitu 1 gram tanah untuk 2,5 ml air.
  9. Ditentukan perakarannya ( halus, kasar ) dan kedalaman perakarannya.

 Profil Sawah

  1. Disiapkan alat dan bahan
  2. Dicari tanda alam keran air dengan titik koordinat 48M 0527237 dan UTM 9406567.
  3. Dicari arah utara menggunakan kompas dan sejajarkan pada peta dasar dengan bidang datar, sesuaikan dengan arah utara pada peta dasar, tentukan juga titik terjauh dari arah utara tersebut.
  4. Dilihat dan dicatat kemiringan lereng menggunakan clinometer.
  5. Dilakukan boring tanah pada titik awal.

Profil Boring Sawah

  1. Diboring tanah searah jarum jam sampai tidak bisa diputar lagi.
  2. Diletakkan diatas lapisan yang sudah disediakandengan urutan 0-20 cm, 20-40 cm, 40-60 cm,80-100 cm.
  3. Dilakukan boring sebanyak 5 kali pada satu titik.
  4. Ditentukan ada berapa lapisan dalam boring tersebut.
  5. Diukur kedalaman tiap lapisan menggunakan meteran.
  6. Ditentukan teksturnya dengan cara diambil tanah pada tiap lapisan , kemudian dibasahi air lalu dipijit/dipirid antara ibu jari dan telunjuk ( untuk menghancurkan bentuk sekunder) hingga membentuk bola lembek, sambil diperhatikan adanya rasa kasar atau licin di antara jari tersebut. Kemudian digulung-gulung sambil dilihat daya tahan terhadap tekanan, dan dilihat kelekatan massa tanah waktu telunjuk dan ibu jari ditolakkan.
  7. Ditentukan konsistensi dengan cara diambil tanah pada tiap lapisan, kemudian diremas, dipijit, atau dipirid degan tangan .
  8. Ditentukan pH pada tiap lapisan dengan cara diambil tanah lalu dimasukkan kedalam botol film dan diberi air dengan perbandingan 1:2,5 yaitu 1 gram tanah untuk 2,5 ml air.
  9. Ditentukan warna tanah pada tiap lapisan menggunakan buku munsell.

Profil Gali Sawah

  1. Ditentukan ada berapa banyak lapisan dalam profil tebu.
  2. Ditentukan simbol lapisan.
  3. Ditentukan batas topografi dengan menggunakan pisau bergerigi secara horizontal.
  4. Ditentukan teksturnya dengan cara diambil tanah pada tiap lapisan , kemudian dibasahi air lalu dipijit/dipirid antara ibu jari dan telunjuk ( untuk menghancurkan bentuk sekunder) hingga membentuk bola lembek, sambil diperhatikan adanya rasa kasar atau licin di antara jari tersebut. Kemudian digulung-gulung sambil dilihat daya tahan terhadap tekanan, dan dilihat kelekatan massa tanah waktu telunjuk dan ibu jari ditolakkan.
  5. Ditentukan strukturnya dengan cara diambil gumpalan tanah ( sedapat mungkin dalam keadaan lembab) sebesar 10 cm3, kemudian dipecah dengan cara menekan dengan jari. Pecahan gumpalan tanah tersebut merupakan agregat.
  6. Ditentukan konsistensinya dengan cara diambil tanah pada tiap lapisan, kemudian diremas, dipijit, atau dipirid dengan tangan .
  7. Ditentukan karatan nya, apakah ada kelainan warna tanah akibat proses reduksi dan oksidasi. Karatan dalam penampang tanah ditentukan: jumlah, ukuran, bandingan, batas, dan bentuk.
  8. Ditentukan pH lapang dengan cara diambil tanah lalu dimasukkan kedalam botol film dan diberi air dengan perbandingan 1:2,5 yaitu 1 gram tanah untuk 2,5 ml air.
  9. Ditentukan perakarannya ( halus, kasar ) dan kedalaman perakarannya.
  10. Ditentukan warna pada tiap lapisan menggunakan munsell.
  11. Diambil contoh tanah menggunakan cincin besi, dengan cara dibersihkan permukaan tanah disekeliling titik sampel yang akan diambil. Diambil cincin besi, diletakkan tegak lurus diatas permukaan tanah, kemudian tekan dengan alat sampai cincin besi tidak terlihat lagi. Diambil cincin besi yang kedua, letakkan tegak lurus persis diatas cincin besi pertama, lalu tekan lagi dengan alat sampai masuk tanah kira-kira setengahnya. Digali dengan cangkul pelan-pelan, kemudian iris dengan pisau bergerigi tanah yang berlebihan sampai rata dengan permukaan cincin, lalu tutup dengan cover plastiknya. Dilakukan lagi untuk kedalaman lapisan tanah 20-40.

Pembahasan

Dalam melaksanakan praktikum survei dan evaluasi lahan dilakukan pengamatan pada lahan kering dan lahan basah, sebelum melakukan pengamatan ditentukan terlebih dahulu arah mata angin, tanda alam dan disiapkan peta dasar.

Pada lahan kering dilakukan pengamatan profil boring, pengamatan komposit dan profil gali. Pengamatan profil boring dilakukan dengan skala 2: 24 meter, sehingga dilakukan boring tanah ketika sudah tepat berjarak 24 cm dari titik awal 48M 0527155 UTM 9406590 dengan tanda alam pohon kelapa, pengamatan boring tanah yang dilakukan pada lahan kering didapatkan 3 lapisan tanah dengan kedalaman lapisan pertama 0,41 cm, lapisan kedua 41-72 cm dan lapisan ketiga 72-99 cm. Tekstur dari ketiga lapisan ini secara berturut-turut lempung liat berpasir, liat berpasir,  lempung dan konsistensi secara berturut-turut agak keras, keras dan keras dengan pH  keseluruhan dari 3 lapisan tersebut yaitu 6.

Pengamatan profil gali lahan kering didapatkan 3 lapisan tanah, dengan kedalaman pada lapisan pertama  10-22 cm, lapisan kedua  22-44 cm dan lapisan ketiga 44-56 cm. pada pengamatan profil gali tidak dilakukan pengamatan warna tanah dikarenakan tidak ada alat yang dibutuhkan. Batas topografi dari ketiga lapisan secara berturut-turut yaitu smooth, wavy dan wavy pengamatan ini dilakukan dengan cara melihat warna tanah dan dirasakan perbedaan kekerasan tanah dengan menggunakan pisau. Sedangkan pengamatan tekstur dilakukan dengan metode feeling dimana massa tanah kering atau lembab dibasahi kemudian dipijit  antara ibu jari dan telunjuksehingga membentuk bola lembek , sambil diperhatikan adanya rasa kasar atau licindiantara jari tersebut pada pengamatan ini didapatkan tekstur profil gali dari lapisan 1,2,3 secara berturut-turut pasir berlempung, lempung liat berpasir dan lempung berliat. Struktur yang didapatkan pada pengamatan profil gali yaitu prisma, granular dan blocky kubus.

Perakaran pada lapisan satu  dengan kedalaman 10-22 cm  terdapat banyak perakaran, sedangkan pada lapisan ketiga dengan kedalaman 44- 56 cm terdapat sedikit perakaran. Ukuran pH tanah pada setiap lapisan memiliki tingkat keasaman bernilai 6. Konsistensi yang terdapat pada lapisan satu dengan pengujian keadaan basah, konsistensi tidak lekat, keadaan lembab konsistensi sangat gembur, dan keadaan kering konsistensi lepas.  Konsistensi yang terdapat pada lapisan dua dengan pengujian keadaan basah, konsistensi  lekat, keadaan lembab konsistensi gembur, dan keadaan kering konsistensi keras. Konsistensi yang terdapat pada lapisan ketiga dengan pengujian keadaan basah, konsistensi sangat lekat, keadaan lembab konsistensi  gembur, dan keadaan kering konsistensi sangat keras.

Pengamatan profil boring dan profil gali pada lahan basah (sawah) dilakukan pada minggu kedua setelah pengamatan lahan kering pada minggu pertama. Sebelum melakukan survei pada lahan basah diketahui bahwa titik kordinat pada titil awal lahan basah adalah 48M 0527237 dengan UTM 9406567 dan memiliki tanda alam yang sudah ditentukan adalah kran air. Pada titik awal lahan basah sudah dilakukan profil boring yang pertama dan didapatkan 5 lapisan.

Lapisan 1 simbol lapisan A, kedalaman lapisan 0-20cm, warna munsell 10R 3/4, tekstur lempung liat berpasir,  konsistensi lekat, pH lapang 6. Lapisan 2 simbol lapisan B, kedalaman lapisan 20-40cm, warna munsell 10R 3/3, tekstur lempung liat berpasir,  konsistensi tidak lekat, pH lapang 6. Lapisan 3 simbol lapisan C, kedalaman lapisan 40-60cm, warna munsell 10R 4/3, tekstur lempung berliat,  konsistensi tidak lekat, pH lapang 5-6. Lapisan 4 simbol lapisan D, kedalaman lapisan 60-80cm, warna munsell 10R 4/4, tekstur lempung berpasir,  konsistensi agak lekat, pH lapang 6. Lapisan 5 simbol lapisan E, kedalaman lapisan 80-100cm, warna munsell 2.5YR 4/8, tekstur lempung berpasir,  konsistensi tidak lekat, pH lapang 6.

Profil gali lahan sawah dilakukan setelah praktikan berjalan 24 m dari profil boring, pada saat pengamatan  profil gali didapatkan 4 lapisan. Pada profil gali ini terdapat perbedaan warna munsell dan tekstur, dikarenakan kedalaman lapisan yang berbeda-beda dan karakteristik tanah pun berbeda. Misalnya pada lapisan 1 dan 2 terdapat perbedaan warna munsell yaitu 10YR 3/2 dan 2.5YR 3/4, dan tekstur terdapat perbedaan pada lapisan 1 dan 2 yaitu lempung liat berpasir dan lempung. Dari perbedaan tersebut dapat kita ketahui bahwa semakin dalam lapisan tanah maka karakteristiknya semakin padat.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum ini yaitu:

  1. Tekstur tanah pada lahan kering umumnya pasir berlempung. Sedangkan, tekstur tanah pada lahan sawah lempung liat berpasir.
  2. Kisaran tingkat kemasaman tanah pada lahan kering dan lahan sawah sama yaitu 6.
  3. Warna tanah pada lahan sawah rata-rata yaitu YR (Yellow Red/merah kekuningan).

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Faisal. 2003. Manajemen Perbankan Edisi Revisi. Penerbit UMM. Malang.

Anonim. 2011. Prosedur Evaluasi lahan. http://bbsdlp.litbang. deptan.go.id /prosedur.php. Diakses pada 5 november 2021 pukul 17.28 WIB.

Djaenudin, D., Marwan H, H Subagyo, Anny Mulyani, dan N Suharta. 2000. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Balitbang pertanian, Departemen Pertanian. Bogor.

Hanafiah, Kemas Ali. 2010. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Rahmat. 2011. Survei dan Evaluasi Lahan. http://blog.re.or.id/survei-dan-evaluasi-lahan.htm. Diakses pada 5 November 2021 pukul 18.00 WIB.

Sitorus, S.R.P. 1985. Evaluasi Sumber Daya Lahan. PT Tiga Serangkai. Yogyakarta.

Sutanto, 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah (Konsep dan Kenyataan). Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Nah, itulah saja tulisan tentang contoh laporan praktikum yang baik dan benar dari bab latar belakang sampai dengan kesimpulan sekaligus bisa untuk dipergunakan. Semoga bisa berguna untuk rekan-rekan semuanya yang sedang memerlukannya.

Gambar Gravatar
Saya mencintai dan suka menulis terkait pendidikan dan penelitian. Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat untuk kalian yang membutuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *