Contoh Artikel Eksplanatif

Diposting pada

Contoh Artikel Eksplanatif

Makna artikel konteks karya tulis ilmiah akan senantisa mewakili serangkaian fakta umum dan ditulis sesuai dengan metode penulisan yang baik dan benar, artinya sesuai dengan struktur yang telah disepekati. Tak terkecuali dengan artikel eksplanatif.

Artikel eksplanatif sendiri dapat dengan mudah ditemukan, khususnya dalam berbagai topik dan pembahasaan. Seperti dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Sunda, dan lain sebagainya.

Artikel Eksplanatif

Artikel eksplanatif adalah jenis artikel yang berusaha melakukan pencerahan berupa penerangan terkait dengan topik kepenulisan yang dikuasai oleh penulis. Sehingga konsep struktur dalam tujuan artikel ini haruslah dapat mudah dipahami oleh pembaca dengan gaya bahasa yang umum dipergunakan.

Contoh Artikel Eksplanatif

Sebagai pembahasan lebih lanjut, berikut ini merupakan teks yang dapat dipergunakan sebagai contoh susun artikel eksplanatif.

Penulisan Artikel Eksplanatif

Ubi Kayu Racun yang Boleh Untuk di Makan

Di Indonesia, ketela pohon menjadi makanan bahan pangan pokok setelah beras dan jagung. Manfaat daun ketela pohon sebagai bahan sayuran memiliki protein cukup tinggi, atau untuk keperluan yang lain seperti bahan obat-obatan. Kayunya bisa digunakan sebagai pagar kebun atau di desa-desa sering digunakan sebagai kayu bakar untuk memasak. Dengan perkembangan teknologi, ketela pohon dijadikan bahan dasar pada industri makanan dan bahan baku industri pakan. Selain itu digunakan pula pada industri obat-obatan.

Ubi Kayu

Ketela pohon atau singkong merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain ubi kayu, singkong atau kasape. Ketela pohon berasal dari benua Amerika, tepatnya dari negara Brazil. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia, antara lain: Afrika, Madagaskar, India, Tiongkok. Ketela pohon berkembang di negara-negara yang terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada tahun 1852.

Ubi kayu dengan nama ilmiah Manihot esculentas Crants atau biasa dikenal dengan sebutan ketela pohon atau dalam bahasa inggris dikenal dengan nama cassava yang merupakan tanaman tahunan berupa pohon dari famili Euphorbiaceae yang bagian umbi digunakan sebagai sumber karbohidrat dan bagian daun untuk dikonsoumsi sebagai sayuran. Di negara Indonesia ubi kayu atau ketelah pohon digunakan sebagai makanan pokok setelah beras dan jagung.

Ubi kayu adalah jenis tanaman pangan yang berperan penting dalam memproduksi sumber bahan pangan karbohidrat dan untuk bahan baku dalam industri makanan, kimia, dan pakan ternak (Lidiasari, 2006). Ubi kayu adalah tanaman umbi atau akar pohon dengan panjang mencapai diameter 2-3 cm dan panjang berkisar 50-80 cm menurut jenis varietas yang dibudidayakan.

Pada bagian umbi terlihat warna putih kekuning-kuningn. Ubi kayu berdaya simpan relatif tidal lama meskipn diletakkan pada lemari pendingin. Gejala kerusakan pada singkong ditandai dengan adanya warna biru gelap yang keluar disebabkan pembentukan asam sianida yang bersifat toksok atau racun untuk manusia.

Ubi kayu adalah sumber energi dengan kandungan karbohidrat yang kayu meskipun proteinnya yang sangat rendah. Sumber proteinpada daun ubi kayu dikarenakan kandungan asam amino dan metionin.

Ubi kayu hampir seluruhnya dibudidayakan secara vegetatif yaitu dengan melalui setek. Jenis tanaman ubi kayu yang banyak digunakan sebagai bahan klon atau varietas di daerah Lampung antara lain varietas UJ-5 atau Casseart, varietas UJ-3 atau Thailand dan klon lokal seperti Manado, Klenteng, dan Barokah yang memiliki umur pendek namun kandungan patinya lebih rendah sehingga menimbulkan rafaksi atau potongan timbangan yang tinggi ketika penjualan hasil di perusahaan atau pabrik.

Hasil penelitian oleh BPTP Lampung menunjukkan bahwa pemanfaatan varietas UJ-5 dapat memproduksi lebih tinggi dengan kandungan pati yang turut tinggi. Metode penanaman yang banyak digunakan oleh petani untuk ubi kayu yaitu dengan menggunakan sistem tanam rapat dengan jarak tanam berkisar 70 cm x 80 cm.

Metode penanaman ini mempunyai banyak kelemahan seperti pemanfaatan bahan tanaman dengan jumlah yang besar berkisar 18.000 tanaman per ha dan hasilnya atau produktivitasnya rendah berkisar 18-22 ton per ha. Hasil penelitian oleh BPTP Lampung menunjukkan bahwa pemanfaatan sistem tanam double row dengan menggunakan varietas UJ-5 dapat memproduksi ubi kayu berkisar 50-60 ton per ha (Anonim, 2008).

Ubi kayu memiliki banyak nama seperti ketela,ubi kayee pada daerah Aceh, huw dangder pada daerah Sunda, tela pohung pada daerah Jawa, tela balandha pada daerah Madura, kasubi pada daerah Gorontal dan masih banyak lagi (Purwono, 2009).

Apa Itu Ubi Kayu?

Ubi kayu atau biasa disebut singkong merupakan jenis tanaman dikotil dengan rumah satu yang dibudidayakan untuk diperoleh patinya sebagai sumber makanan dan mudah untuk dicerna oleh tubuh.

Ubi kayu sebagai tanaman semak berlukar tahunan memiliki tinggi mencapai 4  m dengan bagian daun besar dan menjari dengan jumlah belahan lembar daun berkisar 5 sampai dengan 9. Daunnya terdapat tangkai besar yang bersifat cepat luruh dengan umur yang paling lama hanya beberapa bulan saja.

Batang pada ubi kayu mempunyai pola percabangan yang unik dan khas serta keragamannya ditentukan oleh varietas yang dibudidayakan. Pertumbuhan tegak batang mudah untuk penyiangan hal ini yang disukai sebelum bercabang.

Percabangan yang terlalu rendah dan berlebihan biasanya tidak mudah untuk disukai. Pada bagian batang tua mempunyai bekas daun yang jelas dengan ruas panjang yang berfungsi sebagai penunjuk laju pertumbuhan cepat. Jenis tanaman yang dikembangkan dengan biji memproduksi akar tunggang yang jelas.

Pada tanaman yang dikembangkan secara vegetatif akan menghasilkan akar serabut yang tumbuh dari dasar lurus. Ubi kayu berkembang dari saat penebalan sekunder akar serabut adventif. Ubi kayu atau singkong berbentuk macam-macam dan meskipun sebagian besar memiliki bentuk silinder dan runcing serta diantaranya ada yang bercabang. (Lies Suprapti, 2005)

Terdapat klasifikasi ubi singkong berdasarkan Michael Twest dalam Putri tahun 2015 yaitu antara lain;

Kingdom Plantae
Divisi Spermatophyta
Sub divisi Angiospermae
Kelas Dicotyledoneae
Ordo Euphorbiales
Familia Euphorbiaceae
Genus Manihot
Spesies Manihot utilisima

Berdasarkan Suprati pada tahun 2005 bagian ubi kayu terbagi menjadi batang,daun, bunga dan umbi. Pada batang ubi kayu beruas-ruas dengan tinggi mencapai 3 m. Batang ubi kayu berwarna macam-macam, saat muda biasanya berwarna hijau dan ketika tua berubah menjadi keputih-putihan, kelabu bahkan hijau kelabu ataupun coklat kelabu.

Pada bagian batang biasanya terdapat empelur lunak yang berwarna putih dengan strukturnya yang empuk seperti gabus. Tiap batang tanaman memproduksi rata-rata node atau buku per hari di awal masa pertumbuhannya dan tiap satu buku per minggu di masa berikutnya. Tiap satu- satuan buku terbagi menjadi satu buku area menempelnya daun dan internode atau ruas buku.

Panjang ruas buku atau internode ditentukan oleh genotipe, lingkungan seperti kebutuhan air tanaman dan cahaya serta umur tanaman. Internode atau ruas buku akan menjadi pendek apabila dalam keadaan kekeringan dan akan berubah menjadi panjang apabila terdapat di lingkungan yang sesuai dan internode akan panjang apabila kekurangan cahaya.

Susunan daun pada ubi kayu berbentuk 2/5 spiral. Lima daun terdapat dalam posisi melingkar hingga membentuk spiral dua kali yang berada di sekeliling batang. Daun selanjutnya atau daun pada posisi ke enam akan terletak di atas titik spiral. Kemudian dua putaran daun ke enam akan berada di atas daun pertama dan begitu seterusnya. Daun ubi kayu terbagi dari tangkai daun atau petiole dan helai daun atau lamina.

Ubi kayu adalah sumber makanan karbohidrat setelah beras dan jagung yang diambil bagian umbinya.Ubi kayu adalah jenis tanaman perdu yang berasal dari benua Amerika lebih tepatnya di negara Brazil. Penyebaran ubi kayu hampir di seluruh negara dunia seperti Tiongkok, India, dan Madagaskar dan lain-lain. Ubi kayu biasa ditemukan di negara yang terkenal dengan area pertaniannya. (Purwono, 2009)

Penyebaran ubi kayu di Indonesia berkisar pada tahun 1914-1918 yang ketika itu negara Indonesia terdapat kekurangan atau sulit mencari sumber pangan. Ubi kayu mudah tumbuh dengan baik di daerah atau wilayah dengan ketinggian mencapai 2.500 mdpl.

Dengan berkembangnya ubi kayu di daerah tropis maka ubi kayu menjadi makanan pokok setelah beras dan jagung. Di daerah kekurangan pangan tanaman ini yaitu makanan pengganti atau subsitusi di Indonesia seperti NTT, Lampung dan Jawa (Sunarto, 2002)

Masyarakat Nusantara banyak yang mengonsusi ubi kayu terkhusus pada wilayah kering sebab disana banyak dikembangkan ubi kayu sebagai makanan pokok. Saat mengonsumsi ubi kayu harus diperhatikan sebab di dalam ubi kayu terdapat kandungan senyawa toksik atau beracun yang biasa disebut asam sianida atau HCN.

Senyawa yang memproduksi HCN atau asam sianida adalah senyawa glukosida sianogenik yang jumlahnya berkisar 2.650 jenis tanaman termasuk tanaman ubi kayu. Seluruh bagian tanaman ubi kayu terkecuali biji memiliki kandungan senyawa HCN atau asam sianida (Wheatley dan Chuzel, 1993).

Kandungan senyawa HCN di ubi kayu menimbulkan ubi kayu berpotensi dapat meracuni jika dikonsumsi. Menurut kandungan asam sianidanya, ubi kayu dibagi menjadi dua jenis yaitu ubi kayu manis dengan kadar HCN kurang dari 40 ppm dan ubi kayu pahit dengan kandungan HCN lebih dari 50 ppm.

Ubi kayu manis umumnya dimanfaatkan sebagai kebutuhan konsumsi langsung, sedangkan ubi kayu pahit biasanya digunakan sebagai bahan baku dalam industri makanan ataupun lainnya (Balitbangtan, 2011).

Di negara Indonesia memiliki 12 varietas unggul ubi kayu yang terbagi menjadi enam varietas yang memiliki kndungan HCN kurang dari 40 ppm tepat untuk dimakan secara langsung dan enam varietas memiliki kandungnan lebih dari 40 ppm sehingga cocok untuk bahan industri. Untuk bahan baku industri, kandungan HCN tyang tinggi tidak menjadi hambtan sebab sebagian besar asam sianida akan hilang ketika dibersihkan/ dicuci, dan proses pemanasan ataupun pengeringan (Balitkabi, 2016).

Jenis Ubi Kayu Racun dan Dimakan

Menurut kandungan HCN atau asam sianida pada ubi kayu tidak semua ubi kayu dapat dimakan secara langsung. Singkong dengan kandungan asam sianida atau HCN kurang dari 100 mg/kg biasanya terdapat rasa manis yang aman dan layak apabila dikonsumsi secara langsung ataupun diolah dahulu menjadi bahan makanan.

Sebagai contoh berikut ini

  1. Varietas Adira dengan kandungan HCN 27,5 mg/kg (manis)
  2. Varietas Adira 2 dengan kandungan HCN 124 mg/kg (tidak aman)
  3. Varietas Basiorao dengan kandungan HCN lebih dari 80 mg/kg (aman)
  4. Varietas Bogor atau Karet dengan kandungan HCN lebih dari 100 mg/kg (tidak aman)
  5. Varietas Mangi dengan kandungan HCN 30 mg/kg (aman)

Berdasarkan Departemen Perindustrian pada tahun 1999 menurut kadar HCN pada umbi, ubi kayu dibagi menjadi empat golongan antara lain

  1. Ketelah pohon manis

Jenis ketela pohon ini dapat dimakan secara langsung ataupun menjadi bahan makanan untuk jajanan tradisinal karena kandungan HCN yang sangat rendah yaitu berkisar 40 mg atau 0.04%. Jenis ketela pohon manis sebagai berikut Adira I, Mangi, Betawi, Mentega, Gading, Kaliki, dan Randu Ranting.

  1. Ketela pohon agak beracun

Kelompok ketela pohon ini berkandungan HCN berkisar 50-80 mg/kg atau 0,05-0,008 %.

  1. Ketela pohon beracun

Kelompok ketela pohon ini memiliki kandungan HCN berkisar 80-100 mg/kg atau 0,08-0,10%.

  1. Ketela pohon sangat beracun

Kelompok ketela pohon ini mempunyai HCN lebih dari 100 mg/kg. Contoh kelompok jenis ketela pohon ini antara lain Adira II, SPP, dan Bogor.

Struktur Penulisan Artikel Eksplanatif

Dari contoh yang dikemukakan. Setidaknya perlu diketahui bahwa ada struktur bagian dalam kepenulisan untuk artikel eksplanatif. Yakni;

  1. Memberikan penjelasan terkait dengan gambaran umum
  2. Mencantumkan keterangan ilmiah
  3. Memberikan ulasan terkait dengan topik kepenulis
  4. Inti tulisan

Nah, itulah saja penjelasan dan ulasan yang bisa kami uraikan pada semua kalangan berkenaan dengan contoh artikel eksplanatif. Semoga bermanfaat.

Gambar Gravatar
Saya mencintai dan suka menulis terkait pendidikan dan penelitian. Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat untuk kalian yang membutuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *