4 Ciri Jurnal Predator yang Harus Kamu Ketahui

Diposting pada

Ciri Jurnal Predator

Diakui ataupun tidak, penggunaan istilah penerbit predator yang disebut juga penerbit penipu (deceptive publishing) sejatinya mengacu pada model bisnis dalam skala penerbitan akademis yang bersifat eksploitatif. Lantaran melibatkan pembebanan biaya publikasi kepada penulis tanpa memeriksa artikel demi menjamin kualitas dan legitimasinya.

Disisi lainnya, karakteristik yang melakat dalam jurnal ini biasanya tanpa menyediakan layanan editorial dan penerbitan yang disediakan oleh jurnal akademik yang sah, baik akses terbuka atau tidak.

Jurnal Predator

Jurnal predator adalah bentuk jurnal internasional yang memberikan keterangan terkait bagian penerbitann tidak dilakukan proses peninjauan ilmiah atas naskah yang bisa dipertanggungjawabkan sehingga secara kualitasnya diragukan.

Ciri Jurnal Predator

Adapun karakteristik yang ada dalam jurnal predator. Antara lain;

  1. Editor dan Staf

Kriteria terkait editor dan staf dalam hal ini setidaknya meliputi;

  1. Pemilik penerbitan diidentifikasi sebagai editor setiap jurnal yang diterbitkan oleh organisasi.
  2. Tidak ada satu orang pun yang diidentifikasi sebagai editor jurnal tertentu.
  3. Jurnal tidak mengidentifikasi dewan redaksi/peninjau formal.
  4. Tidak ada informasi akademik yang diberikan mengenai editor, staf editorial, dan/atau anggota dewan peninjau (misalnya, afiliasi institusional).
  5. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa editor dan/atau anggota dewan peninjau tidak memiliki keahlian akademis untuk memenuhi syarat secara wajar sebagai “penjaga gerbang (gatekeepers)” publikasi di bidang jurnal.
  6. Dua atau lebih jurnal memiliki duplikat dewan redaksi (yaitu, dewan redaksi yang sama untuk lebih dari satu jurnal).
  7. Jurnal memiliki jumlah anggota dewan yang tidak mencukupi, (misalnya, 2 atau 3 anggota), telah membuat dewan redaksi (dengan nama yang dibuat-buat), mencantumkan nama seseorang dalam jajaran dewan redaksi tanpa sepengetahuan atau izin mereka atau memiliki anggota dewan yang merupakan peneliti terkemuka tapi membebaskan mereka dari kontribusi apa pun ke jurnal kecuali penggunaan nama dan/atau foto mereka.
  8. Ada sedikit atau tidak ada keragaman geografis di antara anggota dewan redaksi, terutama untuk jurnal yang mengklaim memiliki cakupan atau liputan internasional.
  9. Dewan redaksi terlibat dalam bias gender (yaitu, pengecualian dari setiap anggota perempuan).
  1. Manajemen bisnis

Kriteria terkait manajemen bisnis meliputi:

  1. Penerbit menunjukkan kurangnya transparansi dalam operasi penerbitan.
  2. Penerbit tidak memiliki kebijakan atau praktik untuk pelestarian digital, artinya jika jurnal berhenti beroperasi, semua konten akan hilang dari internet.
  3. Penerbit memulai operasi dengan armada jurnal yang besar, sering kali menggunakan template umum untuk membuat halaman beranda setiap jurnal dengan cepat.
  4. Penerbit memberikan informasi yang tidak memadai atau menyembunyikan informasi tentang biaya kepada penulis, menawarkan untuk menerbitkan makalah penulis dan kemudian mengirimkan faktur “kejutan” yang tidak terduga.
  5. Penerbit tidak mengizinkan mesin pencari untuk merayapi konten yang dipublikasikan, untuk mencegah konten diindeks dalam indeks akademik.
  6. Penerbit mengunci salinan bukti PDF mereka, sehingga lebih sulit untuk memeriksa plagiarisme.
  1. Integritas

Kriteria terkait integritas meliputi:

  1. Nama jurnal tidak sesuai dengan misi jurnal.
  2. Nama jurnal tidak cukup mencerminkan asal-usulnya (misalnya, jurnal dengan kata “Kanada” atau “Swiss” dalam namanya jika penerbit, editor, atau afiliasi institusional yang mengaku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Kanada atau Swiss).
  3. Dalam email spam atau situs webnya, penerbit secara keliru mengklaim satu atau lebih jurnalnya memiliki faktor dampak (impact factor) aktual (Thomson-Reuters), atau mengiklankan faktor dampak yang ditetapkan oleh layanan “impact factor ” palsu, atau menggunakan beberapa ukuran yang dibuat-buat (misalnya faktor tampilan), berpura-pura/mengklaim kedudukan internasional yang dilebih-lebihkan.
  4. Penerbit mengirimkan permintaan spam untuk tinjauan sejawat kepada para sarjana yang tidak memenuhi syarat untuk meninjau naskah yang dikirimkan, dalam arti bahwa spesialisasi peninjau yang diundang tidak sesuai dengan makalah yang dikirimkan kepada mereka.
  5. Penerbit secara keliru mengklaim bahwa kontennya diindeks dalam layanan abstraksi dan pengindeksan yang sah atau mengklaim bahwa kontennya diindeks dalam sumber daya yang bukan layanan abstraksi dan pengindeksan.
  6. Penerbit mendedikasikan sumber daya yang tidak memadai untuk mencegah dan menghilangkan kesalahan penulis, sejauh jurnal mengalami kasus plagiarisme, plagiarisme diri (self-plagiarism), manipulasi gambar, dan sejenisnya yang berulang.
  7. Penerbit meminta penulis korepondensi (corresponding author) untuk memilih/menyarankan peninjau (suggested reviewers) dan penerbit kemudian menggunakan suggested reviewers tersebut tanpa cukup memeriksa kualifikasi atau keasliannya. (Protokol ini juga memungkinkan penulis untuk membuat identitas online palsu untuk meninjau makalah mereka sendiri).
  1. Mementingkan Kuantitas daripada Kualitas

Dalam lingkungan penelitian, biasanya ada nilai lebih untuk kuantitas daripada kualitas untuk penerbitan dalam jurnal predator. Dimana perekrutan dan promosi akademisi sebagian besar didasarkan pada jumlah publikasi mereka. Jurnal predator telah membantu banyak peneliti semu untuk berkembang.

Kesimpulan

Dari penjelasan yang dikemukakan, dapatlah dikatakan bahwa urnal adalah publikasi ilmiah yang berisi artikel yang ditulis oleh peneliti, profesor, dan pakar lainnya. Sehingga prihal ini setiap jurnal memfokuskan kajiannya pada disiplin atau bidang studi tertentu. Tidak seperti surat kabar dan majalah, jurnal ditujukan untuk audiens akademis atau teknis, bukan pembaca umum. Penerbitan jurnal dilakukan secara berkala (bulanan, triwulanan, dan lain-lain) dan diberi nomor urut.

Namun yang pastinya, bagian standar untuk setiap bentuk kepenulisan di jurnal internasional yaitu terdiri atas dua penulis yang berasal dari dua negara berbeda, sedangkan untuk jurnal nasional terakreditasi penulisnya dapat berasal dari dua institusi berbeda. Tetapi, khusus jurnal predator juga membawa kerugian tersendiri karena jurnal-jurnal yang sifatnya predator dan berkualitas rendah dapat merusak literatur.

Oleh sebab itu, penerbitan tanpa peer review (tapi berpura-pura bahwa peer review dilakukan) memberi kesempatan kepada akademisi yang biasa-biasa saja untuk mendapatkan pekerjaan dan promosi yang seharusnya diberikan kepada peneliti yang lebih berkualitas.

Nah, demikinalah artikel yang bisa kami bagikan pada semua kalangan berkenaan dengan ciri jurnal predator dalam publikasi ilmiah. Semoga saja bisa berguna bagi kalian semuanya.

Gambar Gravatar
Saya mencintai dan suka menulis terkait pendidikan dan penelitian. Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat untuk kalian yang membutuhkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.